REMBANG, Lingkarjateng.id – Ratusan siswa SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang izin tidak masuk kegiatan belajar setelah pada Rabu, 2 September 2026 mengalami keluhan kesehatan yang diduga karena program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan hingga Jumat, 4 September2026, jumlah siswa yang masih izin sakit tercatat 209 orang. Jumlah tersebut menurun drastis dari sehari sebelumnya yang mencapai 752 siswa.
“Untuk hari ini anak-anak yang izin sakit masih 209. Kemarin 752. Alhamdulillah sudah banyak yang membaik dan sudah mengikuti kegiatan pembelajaran,” kata Juhartutik.
Menurutnya, kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Lasem tetap berjalan normal. Meski demikian, pihak sekolah masih memantau kondisi siswa termasuk yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Juhartutik menyebut pada Kamis, 3 September 2026 sore terdapat enam siswa yang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Lasem. Namun, satu siswa disebut sudah menyelesaikan perawatan setelah infusnya dilepas.
“Pagi ini kemungkinan tinggal lima, tetapi nanti kami akan cek ulang ke lokasi,” ujarnya.
Selain pemantauan, sekolah telah memberikan bantuan obat kepada siswa yang mengalami gejala keracunan. Obat dibeli dari sejumlah apotek di Lasem karena jumlah siswa yang membutuhkan cukup banyak.
Pihak sekolah juga telah berkomunikasi dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG ke sekolah.
Juhartutik mengatakan pihak SPPG langsung mendatangi SMAN 1 Lasem setelah kejadian untuk menyampaikan permintaan maaf sekaligus menjelaskan kronologi proses pengolahan makanan.
“Pihak SPPG langsung datang menyampaikan permintaan maaf, kemudian menjelaskan kronologi, cara memasak, waktu dan seterusnya. Kami juga memberikan beberapa masukan,” jelasnya.
Pihak SPPG, lanjut dia, menyatakan siap bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan siswa yang mengalami sakit.
Sekolah juga meminta SPPG terus memantau kondisi siswa yang masih menjalani perawatan maupun apabila muncul laporan tambahan.
Terkait kelanjutan program MBG, sekolah belum mengambil keputusan. Pihak sekolah saat ini masih melakukan survei kepada guru dan siswa.
Hingga Kamis, sekitar 400 orang telah mengisi survei melalui Google Form. Hasilnya belum dibuka karena masih berada pada penanggung jawab survei.
“Pagi ini baru akan kami lihat hasil surveinya. Dari situ nanti kami tindak lanjuti apakah MBG akan dilanjutkan atau tidak,” kata Juhartutik.
Ia menambahkan, sebelum kejadian tersebut, pelaksanaan MBG di SMAN 1 Lasem berjalan normal dan belum pernah terjadi kejadian serupa.
Investigasi terhadap dugaan keracunan juga terus dilakukan. Sejumlah instansi telah mendatangi SMAN 1 Lasem, di antaranya Dinas Kesehatan, Tim Kesehatan, Puskesmas Lasem, BPOM, Polres, dan Kodim.
Staf BPOM, Stevi Ayu Kurniawati, mengatakan pihaknya sebelumnya telah melakukan inspeksi ke SPPG serta mengunjungi sejumlah siswa yang menjalani perawatan di puskesmas.
“Untuk hari ini kami akan melakukan penyelidikan epidemiologis di SMAN 1 Lasem. Kemudian kami akan mengambil sampel untuk dibawa ke laboratorium Balai Besar POM Semarang,” jelas Stevi.
Sampel yang diambil berupa makanan yang masih tersisa dari menu MBG yang dibagikan pada Rabu kemarin.
Stevi mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium tidak bisa dipastikan keluar dalam waktu tertentu karena harus melalui prosedur pemeriksaan.
“Kami ada SLA-nya, tetapi tidak bisa menjanjikan kapan hasilnya keluar karena harus sesuai dengan prosedur,” ujarnya.
Salah satu siswa SMAN 1 Lasem, Cintasari, mengaku sempat mengalami diare setelah mengonsumsi makanan MBG. Ia merasakan keluhan serupa dua kali.
Ia tidak sampai menjalani perawatan dan hanya mengonsumsi obat yang diberikan pihak sekolah. Saat ini kondisinya sudah membaik.
Sementara itu, siswa kelas 11, Mu’amanah Elfia Setyowati, mengungkapkan menu MBG pada Rabu berupa ayam, mendoan, nasi, semangka, dan lalapan.
Menurutnya, makanan tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB dan disantap siswa saat jam istirahat sekitar pukul 12.00 WIB.
“Pulang sampai rumah terasa mual. Teman-teman ada yang sampai muntah,” ungkapnya.
Hingga Jumat, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Pemerintah dan instansi terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan sumber keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa
































