Blora (lingkarjateng.id) – Program pengembangan ayam kampung yang digadang-gadang oleh Bupati Blora Arief Rohman bakal melibatkan perguruan tinggi yakni Universitas Gajah Mada (UGM) untuk ikut andil mensukseskannya.
Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora menyebut program pengembangan ayam kampung nantinya akan dipetakan melalui kebutuhan peternak sebagai penerima manfaat.
“Kita bagaimana arahan pak bupati ini, kita sebagai eksekutor nya. Nantinya program tersebut akan bekerjasama dengan UGM,” kata Kepala DP4 Blora, Ngaliman, saat ditemui wartawan pada Rabu (2/9/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Sekertaris DP4 Blora, Lilik, menjelaskan penerapan program tersebut masih memerlukan Focus Group Discussion (FGD). Sehingga potensi setiap peternak dapat dipetakan.
“Awal-awal ini kita identifikasi peternak-peternak ayam kampung yang sudah ada di Blora. Apakah ada yang besar, sedang maupun kecil itu kita identifikasi,” terangnya.
Lilik berujar, FGD juga memetakan peternak kecil atau pemula dan peternak lanjutan bahkan yang sudah besar. Sehingga peternak kecil bisa meningkat, dan peternakan besar bisa bertahan.
“Misalnya pasti beda, antara peternak pemula dan yang sudah lanjutan. Bisa jadi ibu-ibu, ini baru identifikasi. Kira-kira bagian mana yang perlu di kembangkan,” katanya.
Menurut Lilik, jenis ayam kampung yang menjadi program tersebut adalah jenis ayam pedaging. Pasalnya banyak kuliner khas Kabupaten Blora yang menggunakan ayam tersebut.
“Kuliner dari ayam kampung di Blora menggunakan hasil dari luar daerah. Semisal opor, itu membutuhkan terus. Sate Blora itu menggunakan ayam kampung. berarti adanya kuliner itu kebutuhan ayam kampung banyak. Ini peluang pengembangan,” terangnya.
Lanjutnya, dari serapan pasar cukup banyak, program tersebut mampu menciptakan ekosistem baru. Sehingga Pemkab mendorong adanya penambahan populasi atau penambahan di hulu produksi ayam kampung.
“Kita punya makanan-makanan khas, yang menggunakan bahan baku ayam kampung. Kita kembangkan ayam kampung nya,” jelas Lilik.
Lilik menambahkan, untuk sumber dana program tersebut, dirinya melirik menggunakan Corporate Social Responsibility (CSR). Pasalnya pada tahun sebelumnya pengembangan pertanian organik menggunakan CSR di Kabupaten Blora cukup sukses.
“Makanya kita identifikasi terus, agar Potensi nya bisa dikembangkan. nanti kita tawarkan untuk CSR,” pungkas Lilik.***
Jurnalis : Eko Wicaksono
Editor : Adi Arfian

































