SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) mendorong desa wisata untuk menghidupkan kembali budaya lokal agar dapat menjadi bagian dari pengalaman wisatawan yang berkunjung.
Disparekraf Jawa Tengah mencatat saat ini setidaknya ada 889 desa wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, sebagian besar masih menyandang status rintisan.
Sekretaris Disparekraf Jawa Tengah, Endro Wicaksa, mengatakan pengembangan desa wisata berbasis budaya tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi melainkan pelestarian budaya juga harus menjadi tahapan awal sebelum potensi tersebut dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
“Budaya itu harus dikonservasi dulu, dihidupkan kembali oleh masyarakat, kemudian dimanfaatkan dan dikembangkan. Dari situ baru bagaimana budaya tersebut bisa menjadi atraksi dan memiliki manfaat ekonomi,” kata Endro saat dikonfirmasi, Minggu, 9 Agustus 2026.
Lebih lanjut, sebagian besar wisata di wilayahnya masuk dalam kategori desa wisata alam. Sementara itu, desa wisata yang mengembangkan potensi budaya dan heritage masih relatif terbatas. Endro mencontohkan Desa Bugisan, Kabupaten Klaten, sebagai salah satu desa wisata yang memiliki potensi budaya dan heritage.
Pengembangan desa wisata tersebut, menurutnya, tidak dapat dilakukan secara cepat karena membutuhkan peningkatan kapasitas masyarakat serta pendampingan secara berkelanjutan.
“Pengembangan desa wisata itu prosesnya panjang. Kita tidak bisa membangun destinasi dalam satu atau dua tahun. Yang paling penting adalah bagaimana SDM-nya berkembang, masyarakatnya memahami dan menghidupkan budayanya, kemudian mengemasnya menjadi atraksi wisata,” ujarnya.
Selain itu, Endro berharap agar desa wisata rintisan agar dapat naik menjadi desa wisata berkembang, kemudian menjadi maju. Sedangkan desa wisata yang telah maju diharapkan mampu mempertahankan kualitas dan keberlanjutannya.
Saat ini, kata Endro, tantangan pengembangan desa wisata bukan sekadar mengejar jumlah, tetapi bagaimana meningkatkan atraksi, pelayanan, hospitality, dan pengalaman wisatawan. Menurutnya, Jawa Tengah tidak perlu melihat daerah lain seperti Bali sebagai kompetitor, melainkan fokus memperkuat kualitas desa wisata agar semakin menarik bagi wisatawan.
Pemprov Jateng juga memberikan stimulus fiskal dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing desa. Dukungan tersebut antara lain dilakukan melalui pelatihan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan fasilitas secara bertahap, hingga pemanfaatan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Dari pemerintah kita akan mendampingi sesuai kebutuhan mereka. Kalau membutuhkan SDM, kita kembangkan dan kita latih. Fasilitas juga kita tambah secara bertahap, termasuk melalui dukungan CSR,” jelasnya.
Ke depan, Pemprov Jateng memiliki target jangka panjang untuk mencapai 1.000 desa wisata. Namun, target tersebut tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah, melainkan juga peningkatan kualitas dan status desa wisata.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid































