BLORA, Lingkarjateng.id – Warga Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, menggelar aksi protes dengan pengurukan grosok dan penanaman pohon pisang di jalan provinsi ruas Randublatung-Cepu pada Minggu, 31 Mei 2025.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan warga atas lambannya penanganan jalan provinsi serta pernyataan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menanggapi aduan Wakil Bupati Blora dalam kegiatan Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah 2026 di Kabupaten Kudus pada Selasa, 26 Mei 2026 lalu.
Saat forum tersebut, Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, menyampaikan keluhan masyarakat mengenai kerusakan jalan provinsi di wilayahnya. Namun, tanggapan gubernur dinilai sebagian warga terkesan tidak menjadikan persoalan tersebut sebagai prioritas.
Dalam aksi tersebut, warga memasang sejumlah tulisan bernada kritik, di antaranya bertuliskan “Kartu Kuning Gub JTG (Gubernur Jawa Tengah)” dan “CCL, Cor Cocote Lutfi”. Massa juga menurunkan sekitar 10 truk grosok untuk menutup lubang jalan serta menanam pohon pisang di sejumlah titik ruas yang rusak.
Warga Dukuh Kedungjambu, Desa Kediren, Kecamatan Randublatung, Minah, mengatakan kerusakan jalan telah lama menjadi keluhan masyarakat. Menurutnya, kondisi jalan semakin membahayakan saat musim hujan.
“Harapannya cepat dibangun. Masak jalan provinsi seperti ini, tidak layak. Kalau hujan bisa menjatuhkan korban. Untung sekarang kemarau, tapi debunya juga sangat mengganggu,” ujar Minah di lokasi aksi.
Keluhan serupa disampaikan Rosyid. Ia menegaskan warga siap menggelar aksi lanjutan apabila tidak ada langkah konkret dari pemerintah provinsi selaku penanggung jawab jalan tersebut.
“Kalau tidak ada respons, kami akan ada aksi lagi. Ini jalur niaga, banyak truk besar lewat sini. Kalau memang belum pernah melihat kondisi di lapangan, silakan datang langsung ke lokasi,” tegasnya.
Menurut warga, ruas Randublatung-Cepu merupakan jalur strategis yang menopang aktivitas ekonomi di wilayah Blora bagian selatan. Jalan tersebut setiap hari dilintasi kendaraan pribadi hingga truk angkutan berat.
Warga lainnya, Kholis, menyoroti dampak kerusakan jalan terhadap layanan kesehatan. Ia menyebut kendaraan ambulans yang membawa pasien menuju Kecamatan Cepu kerap mengalami kesulitan akibat banyaknya lubang di sepanjang ruas jalan.
“Kasihan ambulance saat membawa orang sakit. Keluhan masyarakat sudah banyak sekali, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” katanya.
Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera merealisasikan perbaikan jalan yang selama ini dikeluhkan. Selain menghambat aktivitas ekonomi, kondisi jalan yang rusak dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan setiap hari.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid
































