Kudus (lingkarjateng.id) – Tradisi untuk tidak menyembelih sapi terutama saat hari raya kurban atau Idul Adha, masih tetap dijaga teguh serta dilestarikan hingga kini bagi warga Kabupaten Kudus.
Di balik kisah tersebut ternyata ada pesan toleransi yang diajarkan oleh Jafar Sodiq atau dikenal dengan Sunan Kudus yang merupakan salah satu Walisanga dari turun temurun.
Sunan Kudus dikenal menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus dan sekitarnya. Salah satu tradisi atau diwariskan sampai sekarang adalah tidak menyembelih sapi terutama saat hari kurban.
“Tradisi ini merupakan warisan dari Sunan Kudus penyiar agama Islam kala itu,” kata Syaiful Amin, Dosen Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang kepada wartawan, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya waktu itu wilayah Kudus banyak ditempati warga beragama Hindu. Sunan Kudus untuk mencari simpati warga, maka ia tidak menyembelih sapi. Sapi dianggap hewan suci oleh umat beragama Hindu.
“Toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus, terkait dengan menjaga tradisi, karena waktu di Kudus masih banyak orang Hindu untuk menghormati toleransi dan menarik simpati, jadi toleransi dan simpati yang sudah ada yakni ajaran Hindu,” jelas Syaiful
Menurutnya ada kisah lain mengenai tradisi ini, konon Sunan Kudus pernah tersesat saat perjalanan di hutan. Ia mendapatkan bantuan dari sekawan hewan sapi. Maka itu Sunan Kudus pun menghormati hewan ini. Sunan Kudus juga dikenal memiliki hewan peliharaan berupa sapi.
“Dan menarik bahwa Sunan Kudus tidak hanya melarang, tapi juga menganalogikan, pernah ada cerita konon punya peliharaan sapi kemudian ada juga cerita Sunan Kudus pernah tersesat di hutan diselamatkan oleh sekawan rombongan sapi,” ungkapnya.
“Jadi meski di Kudus tak ada berupa larangan tapi diikuti dengan cerita yang memang saat itu berperan dalam kehidupan Sunan Kudus,” dia melanjutkan.
Menurutnya tradisi ini sampai sekarang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga. Terutama warga di Kudus Kulon atau sekitar Menara Kudus.
“Tetapi bukan sekadar larangan, tapi menjaga simpati dari umat agama lain di Kudus. Sampai sekarang terutama di Kudus Kulon masih erat memegang tradisi atau petuah tersebut,” jelasnya.
Syaiful menyebut tradisi ini sepatutnya agar terus dijaga dan dilestarikan. Pertama tradisi ini bukan semata untuk menghormati dan menghargai orang Kudus saat ini. Akan tetapi sebagai bentuk cerita suatu identitas Kabupaten Kudus.
“Jadi itu zaman dulu masih ada orang Hindu saat itu, dan apakah relevan saat ini, alasan bukan menghormati dan menghargai orang di Kudus saat ini, akan tetapi berupaya cerita itu membentuk suatu identitas yang itu unik di Kudus,” jelasnya.
Kedua tradisi ini sebagai rasa hormat atas nilai-nilai yang diajarkan dari Sunan Kudus. Serta ketiga menjaga toleransi antarumat beragama terus dijaga sampai sekarang.
“Jadi lebih mempertahankan identitas dan yang kedua untuk menghormati petuah yang pernah diajarkan Sunan Kudus,” jelasnya.
“Dan ketiga nilai toleransi yang dijaga tidak sekadar menyembelih sapi tetapi juga makna itu mengajarkan untuk Toleransi, sehingga harapannya sebagian orang di Kudus islam semua, tapi tetap mengembangkan nilai toleransi yang ada di Kudus,” terang dia.
Terpisah, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris saat dimintai konfirmasi membenarkan bahwa tradisi tidak menyembelih hewan kerbau terutama saat Idul Adha terus dijaga sampai sekarang. Menurutnya tradisi ini merupakan ajaran rasa toleransi dari Sunan Kudus.
“Masih ada tradisi sembelih kurban kerbau sebagai hormat tradisi dan toleransi agama. Saling menghormati. Semoga kurban berjalan baik kidmat dan bermanfaat untuk umat Tambahan gizi untuk masyarakat,” kata Sam’ani.***
Editor : Redaksi
































