SALATIGA, Lingkarjateng.id – Menjelang Hari Raya Idulfitri, berkah mulai dirasakan para penjual janur di Kota Salatiga. Permintaan daun kelapa muda untuk bahan ketupat melonjak drastis, bahkan membuat penjual kewalahan memenuhi pesanan.
Salah satu penjual janur, Sulis (36), warga Gamol, Kecandran, Sidomukti, mengaku penjualan mulai ramai sejak sepekan terakhir. “Permintaan tahun ini banyak sekali. Saya sampai kesulitan memenuhi pesanan,” ujarnya, Jumat, 20 Maret 2026.
Menurut Sulis, janur dijual dalam bentuk ikatan. Untuk satu ikat besar berisi sekitar 1.000 lembar janur kuning, harga bisa mencapai Rp300.000. Sementara untuk janur campuran kuning dan hijau, dibanderol lebih murah, yakni sekitar Rp250.000 lebih per ikat. Sedangkan harga janur untuk partai kecil, per ikat isi 50 helai berkisar antara Rp30.000 hingga Rp35.000.
Sulis mengatakan, lonjakan permintaan janur ini tak lepas dari tradisi masyarakat yang identik dengan hidangan ketupat saat Lebaran. Menu khas seperti opor ayam dan lauk pendamping lainnya terasa belum lengkap tanpa sajian ketupat.
“Biasanya yang pesan hanya pedagang makanan. Tapi mendekati Lebaran, banyak warga ikut membeli untuk bikin sendiri. Omzet tahun ini juga lebih banyak dibanding tahun lalu,” ungkapnya.
Tingginya permintaan janur ini menjadi fenomena tahunan yang selalu terjadi menjelang Idul Fitri. Selain menjadi berkah bagi pedagang, kondisi ini juga menunjukkan kuatnya tradisi masyarakat dalam menjaga kuliner khas Lebaran.
“Bagi warga, ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kebersamaan dan tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dan tradisi ini membawa berkah tersendiri bagi penjual janur seperti saya,” ujarnya.
Jurnalis: Angga Rosa






























