SEMARANG, Lingkarjateng.id – Kementerian Kesehatan menargetkan Dinas Kesehatan Kota Semarang meningkatkan cakupan program cek kesehatan gratis hingga 80 persen pada 2026.
Jumlah tersebut naik dari capaian CKG Kota Semarang tahun 2025 yang baru mencapai 42 persen atau sekitar 740 warga yang telah menjalani skrining kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan bahwa capaian CKG tahun 2025 menyisakan sejumlah pekerjaan rumah, terutama pada kelompok sasaran tertentu.
“Target itu langsung dari Kementrian. Di tahun 2025 kemarin kita masih punya PR, lansia baru sekitar 20 persen, bayi sekitar 50 persen, termasuk calon pengantin dan ibu hamil juga belum sesuai target,” ujarnya pada Rabu, 7 Januari 2025.
Dari tujuh kelompok sasaran CKG, hanya dua kelompok yang melampaui target 30 persen, yakni anak sekolah dan kelompok usia dewasa. Sementara kelompok lainnya masih memerlukan strategi khusus agar cakupan bisa meningkat.
Untuk mengejar target 80 persen pada 2026, Dinkes telah menginstruksikan seluruh puskesmas di Kota Semarang untuk menyusun strategi percepatan.
Sosialisasi kepada masyarakat juga mulai digencarkan sejak Januari 2026, mengingat program CKG dapat diikuti satu kali setiap tahun.
“Karena sudah berganti tahun, masyarakat yang sudah melakukan skrining di 2025 wajib mengikuti cek kesehatan gratis lagi di 2026,” jelasnya.
Hakam menambahkan, dengan jumlah penduduk Kota Semarang sekitar 1,7 juta jiwa, target 80 persen berarti sekitar 1,5 juta warga diharapkan dapat terlayani.
Namun ia mengakui target tersebut tidak mudah dicapai, mengingat pada 2025 program baru berjalan optimal mulai Februari dan kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah keterbatasan alat dan bahan pemeriksaan.
Ia mencontohkan, seperti tes cepat gula darah, jika tidak tersedia, hal ini dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan CKG.
“Kalau masyarakat merasa seharusnya ada 30 jenis pemeriksaan tapi yang dilakukan jauh lebih sedikit, tentu kepercayaan bisa menurun. Ini menjadi hambatan,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan mendorong dukungan dari pemerintah pusat, provinsi, hingga APBD Kota Semarang agar seluruh kebutuhan pemeriksaan dapat terpenuhi.
Menurut data hasil CKG selama 2025, menurut Hakam, masalah obesitas menjadi perhatian serius. Angka obesitas, baik pada anak-anak maupun orang dewasa mencapai hampir 30 persen.
“Obesitas ini menjadi PR besar karena jika tidak diintervensi, dalam lima tahun bisa menjadi prediabetes, lalu berkembang menjadi diabetes. Sepuluh tahun ke depan risikonya bisa stroke, gagal jantung, atau gagal ginjal,” jelasnya.
Sementara itu, bagi warga dengan hasil pemeriksaan abnormal seperti gula darah atau tekanan darah tinggi, tindak lanjut telah dilakukan sejak 2025. Puskesmas akan melakukan pemantauan rutin setiap bulan melalui pemeriksaan lanjutan.
“Jadi tidak berhenti di skrining saja. Yang hasilnya abnormal akan terus kami kejar untuk pemeriksaan lanjutan,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa






























