PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota Pekalongan terus memperluas gerakan diversifikasi pangan melalui Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah yang digelar di Lapangan Mataram, Jumat, 14 November 2025 pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan bahan pangan pokok dan pangan lokal dengan harga terjangkau berkat subsidi dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi banyak pihak.
“Alhamdulillah, pada hari ini kita dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan bersinergi dengan Dinas Perdagangan, Dindagkop UMKM Kota Pekalongan, dan difasilitasi oleh Disperindag Provinsi serta Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah,” jelasnya.
Menurutnya, operasi pasar ini tak hanya berfokus pada stabilisasi harga pangan, tetapi juga menjadi ajang sosialisasi pentingnya konsumsi pangan lokal.
“Pangan lokal itu, istilahnya, kenyang tidak harus dengan nasi. Jadi tidak hanya beras sebagai sumber karbo, tapi ada juga sumber karbo lain seperti ubi, jagung, beras jagung, beras singkong, beras merah, beras organik sampai sorgum. Upaya ini bertujuan mengubah pola konsumsi masyarakat agar tidak bergantung pada beras,” terang Lili.
Lili menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap pangan lokal mulai meningkat karena terus dilakukan sosialisasi.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat juga bagus. Banyak yang mulai berminat pada pangan lokal karena kami terus berusaha menyosialisasikan bahwa sumber karbo itu bukan hanya beras,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, disediakan berbagai komoditas dengan harga subsidi, mulai dari bawang merah, bawang putih, cabai, minyak goreng, hingga gula. Untuk kategori pangan lokal, beras organik dijual Rp13.500 per kilogram, sedangkan beras organik aromatik dan beras merah masing-masing Rp15.000 per kilogram.
“Ada beras sorgum, beras jagung, beras singkong itu macam-macam harganya, masih banyak yang disubsidi. Gulanya lebih rendah juga ya, dan tidak terlalu tinggi kalau dibandingkan beras premium,” ujar Lili.
Sementara itu, untuk operasi pasar, pemerintah menggunakan beras medium yang dijual lebih murah dari Harga Eceran Tertinggi (HET) berkat dukungan subsidi provinsi.
“HET beras medium memang Rp13.500, dan karena ada subsidi, harganya bisa lebih murah lagi,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa beras organik termasuk kategori beras premium.
Lebih lanjut, Lili menuturkan manfaat pangan lokal non-padi yang cenderung rendah kalori namun tetap menjadi sumber energi.
“Kalau pangan lokal ya, seperti beras non-padi itu, dia tetap sumber karbo tetapi rendah gula. Jadi bagus untuk kesehatan, terutama untuk penderita diabetes atau hipertensi, Baik juga untuk diet, terutama untuk remaja ya, supaya tidak menyebabkan gemuk tapi energinya tetap dapat,” ungkapnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar S





























