SALATIGA, Lingkarjateng.id – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga memetakan 57 hektare lahan persawahan seluas rawan kekeringan pada musim kemarau 2026.
Plt Kepala Dispangtan Kota Salatiga, Eny Endang Surtiani, mengatakan kondisi pertanian di Kota Salatiga hingga saat ini masih relatif aman. Ia memastikan sejauh ini belum ada lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan.
Sebagian besar lahan sawah baru menyelesaikan masa panen atau berada di penghujung Musim Tanam I (MT I), sehingga dampak kekeringan belum dirasakan secara signifikan.
“Secara umum kondisi pertanaman masih terkendali. Namun, penurunan debit air di saluran irigasi sekunder dan tersier mulai terlihat sehingga petani perlu segera menyesuaikan pola tanam,” katanya, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Eny, Dispangtan telah memetakan wilayah rawan kekeringan sebagai tindak lanjut koordinasi bersama Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Pemetaan dilakukan berdasarkan riwayat debit air, ketersediaan sumber air permukaan, serta tingkat ketergantungan lahan terhadap irigasi tadah hujan.
Hasil pemetaan menunjukkan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan berada di sebagian Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, serta Kelurahan Pulutan dan Blotongan, Kecamatan Sidorejo.
Dari hasil identifikasi tersebut, luas lahan yang masuk kategori rawan mencapai sekitar 57 hektare, terdiri dari 45 hektare di Kecamatan Sidorejo dan 12 hektare di Kecamatan Tingkir.
Meski demikian, Dispangtan menilai potensi gagal panen secara luas masih relatif rendah. Hal itu karena petani di wilayah rawan telah diberikan edukasi agar tidak memaksakan menanam padi pada Musim Tanam II yang membutuhkan pasokan air tinggi.
“Gagal panen yang fatal diperkirakan hanya terjadi pada titik-titik tertentu apabila petani terlambat mengantisipasi penurunan debit air atau tetap menanam varietas padi berumur panjang tanpa dukungan pompa air,” terangnya.
Komoditas yang paling rentan terdampak musim kemarau adalah padi sawah varietas konvensional. Kekurangan air pada fase pengisian bulir dapat menyebabkan tanaman mengalami puso.
Selain itu, tanaman hortikultura seperti sawi dan bayam juga berpotensi mengalami penurunan kualitas dan bobot akibat tingginya tingkat penguapan.
Untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, Pemkot Salatiga telah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari gerakan pompanisasi dengan memanfaatkan air sungai maupun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), edukasi penyesuaian kalender tanam melalui Kalender Tanam (Katam), hingga mendorong petani beralih ke komoditas yang lebih tahan kekeringan seperti jagung, palawija, dan sorgum atau menggunakan varietas padi genjah.
Selain itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki jaringan irigasi agar distribusi air ke lahan pertanian lebih optimal dan meminimalkan kehilangan air akibat kebocoran saluran.
“Kami memastikan pemantauan kondisi lahan akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Hingga saat ini, belum ada laporan lahan pertanian di Kota Salatiga yang mengalami puso akibat kekeringan, namun petani diminta tetap waspada apabila curah hujan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan,” ucapnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa






























