KUDUS, Lingkarjateng.id – Universitas Muria Kudus (UMK) buka suara terkait rencana pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus. Meski mendukung program prioritas pemerintah tersebut, UMK memilih mengambil peran sebagai evaluator dan pemberi kajian akademik terhadap pelaksanaan MBG.
Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya meminta perguruan tinggi ikut terlibat aktif dalam pembangunan SPPG guna mendukung pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.
Menanggapi hal itu, Rektor UMK Prof. Darsono menegaskan kampusnya tetap mendukung program MBG, namun tidak dalam bentuk pembangunan dapur MBG di area kampus.
Menurutnya, perguruan tinggi harus tetap menjaga marwah dan fungsi utamanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Secara prinsip normanya perguruan tinggi itu kan memang sebagai Center of Excellence dalam pengembangan akademik, penelitian dan pengabdian. Prinsip itu tidak boleh ditinggalkan,” ungkapnya usai prosesi wisuda ke-76 di auditorium UMK, Kamis, 7 Mei 2026.
Darsono menilai keterlibatan kampus dalam pembangunan SPPG dikhawatirkan dapat mengganggu nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi apabila tidak ditempatkan secara proporsional.
Ia menegaskan dukungan terhadap program strategis nasional tidak selalu diwujudkan melalui pendirian dapur MBG.
“Kalau boleh saya mengusulkan mestinya perguruan tinggi diperankan mungkin tidak dalam rangka mendirikan dapur, tapi dalam rangka mengekspresikan kompetensi diri dengan keilmuan,” terangnya.
Menurutnya, perguruan tinggi justru dapat mengambil peran lebih penting melalui evaluasi, konsultasi, hingga audit terhadap pelaksanaan program MBG yang sudah berjalan.
“Kami sebagai perguruan tinggi perannya sebenarnya di situ,” lanjutnya.
Darsono menyebut UMK siap memosisikan diri sebagai evaluator program apabila dilibatkan pemerintah dalam pengawasan pelaksanaan MBG.
Dengan posisi tersebut, kampus dapat memberikan masukan, kajian ilmiah, hingga intervensi apabila ditemukan pengelolaan program yang tidak sesuai prosedur.
Selain itu, ia menilai program MBG dapat menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang dilakukan perguruan tinggi. Namun, bentuk pengabdian tersebut tidak semata-mata diwujudkan lewat pembangunan dapur MBG di lingkungan kampus.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus S
Editor: Sekar

































