REMBANG. Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Rembang mengajak masyarakat dan pelaku usaha berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang resmi dicanangkan, Selasa, 23 Juni 2026.
Sebanyak 712 petugas diterjunkan untuk mendata seluruh bangunan hingga Agustus 2026, termasuk usaha rumahan dan bisnis digital yang selama ini belum seluruhnya tercatat.
Ajakan tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang, Teguh Gunawarman saat membacakan sambutan Bupati Rembang pada pencanangan Sensus Ekonomi 2026.
Menurut Teguh, keberhasilan sensus sangat bergantung pada keterbukaan masyarakat dalam memberikan data. Hasil pendataan nantinya menjadi dasar pemerintah menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dunia usaha serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyukseskan Sensus Ekonomi 2026. Kegiatan ini merupakan momentum penting dalam memperkuat kolaborasi untuk membangun masa depan Kabupaten Rembang yang lebih maju dan sejahtera,” ujarnya, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menegaskan, setiap kebijakan yang baik selalu diawali dengan data yang akurat. Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar pemerintah memiliki gambaran nyata kondisi ekonomi daerah.
Data hasil sensus akan dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan strategis, mulai dari pemberdayaan UMKM, pemetaan peluang investasi, perkembangan ekonomi digital, hingga kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Rembang.
Selain itu, sensus ini juga menjadi kesempatan bagi pelaku usaha mikro dan usaha rumahan yang belum pernah terdata agar masuk dalam basis data nasional. Dengan begitu, mereka berpeluang memperoleh perhatian lebih dalam berbagai program pemerintah.
Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Rembang, Jubaedi mengatakan sebanyak 712 petugas telah diterjunkan melakukan pendataan dari bangunan ke bangunan hingga Agustus 2026. Pendataan mencakup seluruh bangunan, baik yang digunakan untuk usaha maupun non usaha.
Menurutnya, Sensus Ekonomi 2026 memiliki tantangan berbeda dibandingkan pelaksanaan pada 2016. Perubahan pola ekonomi yang dipicu perkembangan teknologi membuat banyak usaha kini dijalankan secara digital maupun dari rumah.
“Realitas tahun 2026 menunjukkan perubahan yang sangat cepat dan mendasar. Saat ini kita menghadapi lonjakan ekonomi digital dan ekonomi kreatif, munculnya berbagai model usaha baru berbasis teknologi serta berkembangnya perdagangan melalui platform daring atau e-commerce,” kata Jubaedi.
Karena itu, petugas tidak hanya mendata toko atau perusahaan yang terlihat secara fisik, tapi juga akan mengidentifikasi berbagai aktivitas ekonomi yang dijalankan dari rumah tangga.
“Petugas kami akan masuk ke rumah tangga-rumah tangga untuk mengidentifikasi variasi usaha yang berkembang saat ini. Banyak aktivitas ekonomi yang sekarang bisa dilakukan dari rumah dan itu perlu kami data,” jelasnya.
Jubaedi juga mengungkapkan kondisi ekonomi Kabupaten Rembang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Rembang pada triwulan I 2026 mencapai 6,64 persen secara year on year, sedangkan sepanjang 2025 tercatat 5,77 persen.
Ia menegaskan, tujuan utama Sensus Ekonomi juga menghadirkan data yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pembangunan yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan utama pengumpulan data bukan sekadar menghasilkan angka atau laporan statistik. Yang lebih penting adalah bagaimana data tersebut dapat diubah menjadi kebijakan dan program pembangunan yang berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Rembang,” tandasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Sekar






























