SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana menjajaki kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuka peluang pendanaan bagi sineas muda. Hal ini menyusul terselenggaranya Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026.
Kegiatan tersebut menghasilkan sebanyak 38 proposal film namun masih membutuhkan skema pembiayaan agar dapat berlanjut ke tahap produksi.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, festival film tidak seharusnya berhenti pada kompetisi dan pemberian penghargaan.
Menurutnya, perlu ada dukungan berkelanjutan agar sineas muda dapat mewujudkan gagasan mereka menjadi karya yang diproduksi dan menjangkau penonton lebih luas.
“Yang penting adalah festival ini menggairahkan anak-anak muda untuk membuat film. Ada masa depan di dunia film, dan kami ingin Kota Semarang menjadi salah satu tempat tumbuhnya ekosistem perfilman Indonesia,” ujar Agustina saat malam penganugerahan LOFF 2026 di Gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh, Jumat, 23 Oktober 2026 malam.
Agustina mengungkapkan, terdapat 38 proposal film yang perlu dipikirkan kelanjutan produksinya. Untuk itu, Pemkot Semarang akan menjajaki skema pembiayaan kreatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
“Masih ada PR 38 proposal film yang harus kita pikirkan untuk produksinya, bagaimana caranya. Financing akan kita lakukan supaya banyak pihak yang terlibat,” katanya.
Salah satu bentuk dukungan yang telah diberikan melalui LOFF 2026 adalah Film Fund senilai Rp50 juta kepada SEGI Film untuk produksi film Pedas Level Up.
Agustina menegaskan, pengembangan ekosistem perfilman tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan festival atau menjadikan Semarang sebagai lokasi pengambilan gambar. Industri film membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk pariwisata, perhotelan, serta berbagai fasilitas penunjang produksi.
“Sinema itu tidak hanya produksi film. Sinema itu tidak hanya jadi setting film. Sinema tidak hanya menciptakan artis dari Kota Semarang, tapi membangun ekosistem,” tegasnya.
Menurut Agustina, Semarang memiliki beragam potensi cerita yang dapat dikembangkan menjadi karya sinema, mulai dari sejarah, budaya, kehidupan kampung, hingga kawasan pesisir. Potensi tersebut, kata dia, mampu menarik lebih banyak rumah produksi untuk berkarya di Semarang sekaligus membuka kesempatan bagi sineas lokal.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan karya setelah festival berakhir. Film yang telah diproduksi perlu memperoleh kesempatan untuk berkembang dan menjangkau ruang pemutaran yang lebih luas.
“Jangan film itu berhenti. Film-film yang sudah hadir di Semarang Film Festival ini tentu harus mendapatkan pintu tambahan lainnya untuk langkah yang lebih tinggi,” ujarnya.
Agustina memastikan LOFF akan kembali diselenggarakan pada 2027. Ia berharap jumlah peserta meningkat dan kualitas karya yang dihasilkan semakin baik.
Sementara itu, sutradara nasional Hanung Bramantyo yang menjadi juri LOFF 2026 mengaku terkejut melihat kemampuan para pelajar dalam menghasilkan film berkualitas. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memasuki dunia perfilman.
“Kita sangat terkejut karena saat masih SMA mereka sudah bisa membuat film yang bagus-bagus. Idenya, dengan usia yang masih sekolah, membuat kita kagum,” ungkap Hanung.
Ia menilai kreativitas pelajar perlu terus didorong agar mereka berani mengeksplorasi gagasan dan mengembangkan kemampuan bercerita melalui film.
“Semoga dengan adanya ini menjadi pemicu buat yang lain juga. Kita berharap semuanya semakin berwarna dan berani berekspresi,” katanya.
Dalam proses penjurian kategori mahasiswa, Hanung juga menemukan sejumlah karya yang mengangkat persoalan kesehatan mental dan tema gelap, termasuk bunuh diri sebagai jalan keluar dari masalah kehidupan. Menurutnya, pengangkatan tema sensitif semacam itu membutuhkan pertimbangan matang, terutama dalam cara film menyampaikan persoalan kepada penonton.
Meski demikian, ia mengakui kebebasan berekspresi merupakan bagian penting dalam perkembangan sinema. Hanung berharap LOFF dapat menjadi ruang pembelajaran bagi sineas muda melalui kegiatan pendampingan dan lokakarya, bukan hanya sebagai ajang kompetisi.
“Saya berharap ke depan juga ada workshop. Jadi, tidak hanya sekadar membuat film dan mengirimkan film, tetapi juga ada workshop,” ujarnya.
Hanung secara khusus mendorong sineas muda dari Semarang dan daerah sekitarnya, termasuk Kudus dan Jepara, untuk memanfaatkan festival sebagai kesempatan mengembangkan karya.
“Gunakanlah kesempatan kalau ada festival-festival seperti ini, terutama buat teman-teman anak Semarang. Hasil tahun ini menjadi pemacu dan penyemangat untuk membuat karya yang lebih bagus lagi,” tuturnya.
Pada malam penganugerahan LOFF 2026, penghargaan Film Pendek Terbaik diberikan kepada Sri Rejeki untuk kategori pelajar, *
Curhatan Revi Siterusah*
untuk kategori mahasiswa, dan Throughout These Cages untuk kategori umum.
Jurnalis: Lingkar Network/Syahril Muadz
Editor: Sekar































