SALATIGA, Lingkarjateng.id – Produksi sampah di Kota Salatiga saat ini mencapai antara 80 hingga 140 ton per hari. Guna menekan produksi sampah, Pemkot Salatiga memilih solusi dari rumah tangga dengan memperkuat gerakan pengelolaan sampah dari sumbernya dengan melibatkan masyarakat di seluruh kelurahan.
Melalui kampanye stop sampah dari sumbernya, warga didorong untuk mulai memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga. Dalam kampanye tersebut, Pemkot Salatiga mendorong gerakan satu rumah satu komposter dan satu rumah satu biopori sebagai langkah nyata mengurangi sampah organik.
Melalui gerakan ini, masyarakat diharapkan mampu mengolah sampah dapur menjadi kompos sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Salatiga juga diminta aktif memberikan pendampingan kepada masyarakat, termasuk dalam pemanfaatan barang bekas sebagai media pembuatan biopori.
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan mengungkapkan, produksi sampah Kota Salatiga berada pada kisaran 80 hingga 140 ton per hari. Dengan jumlah tersebut, penerapan teknologi pengolahan sampah berskala besar seperti Refuse Derived Fuel (RDF) belum menjadi pilihan utama.
“Yang paling penting adalah bagaimana sampah bisa dikurangi sejak dari sumbernya. Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan dan pengolahan mandiri,” ujar Ronny dalam keterangan tertulis, Kamis, 9 Juli 2026.
Untuk memasifkan gerakan stop sampah dari sumbernya, Robby melakukan safari kelurahan.
Menurut Robby, safari kelurahan menjadi sarana penting untuk memperkuat komunikasi dan menyamakan persepsi antara Pemerintah Kota Salatiga dengan jajaran kewilayahan.
“Dengan begitu, berbagai program prioritas pemerintah dapat berjalan efektif hingga tingkat masyarakat,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar





























