Salatiga (lingkarjateng.id) – PBSI Salatiga menggelar kejuaraan kota (Kejurkot) Bulutangkis di GOR SMUKI. Kejuaraan yang diikuti ratusan atlet muda ini digelar untuk menjaring atlet potensial yang diproyeksikan mampu bersaing di tingkat lebih tinggi.
Ketua PBSI Salatiga Vita Olivia, mengatakan melalui ajang ini, PBSI berupaya memantau perkembangan atlet sekaligus menemukan bibit-bibit baru yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Peserta yang mengikuti Kejurkot tahun ini lebih dari 400 atlet dari berbagai kelompok usia dan seluruhnya sudah terdaftar dalam sistem informasi PBSI Kota Salatiga,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Dalam Kejurkot tahun ini, sebanyak 21 nomor pertandingan dipertandingkan. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah nomor Tunggal Taruna Putra (TTA), yang selama ini dikenal sebagai kelas paling bergengsi karena mempertemukan atlet-atlet muda terbaik Kota Salatiga.
Menurut Vita, pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mencetak atlet berprestasi.
“Kami berharap dari Kejurkot ini muncul atlet-atlet baru yang mampu berprestasi maksimal, baik di tingkat daerah, nasional hingga internasional,” katanya.
Saat ini, Kota Salatiga memiliki 14 klub bulutangkis aktif yang menjadi ujung tombak pembinaan atlet. Keberadaan klub-klub tersebut dinilai berperan besar dalam menjaga regenerasi dan meningkatkan kualitas atlet bulutangkis di Kota Salatiga.
Selain pertandingan resmi, panitia juga menggelar fun game yang diikuti anak-anak kelahiran 2012 hingga 2020. Kegiatan tersebut menjadi sarana mengenalkan atmosfer kompetisi kepada atlet usia dini sekaligus membangun kecintaan terhadap olahraga bulutangkis sejak kecil.
Untuk menjamin kualitas pertandingan, PBSI Kota Salatiga melibatkan 20 wasit bersertifikasi tingkat provinsi selama kejuaraan berlangsung.
Vita juga mendorong semakin banyak turnamen bulutangkis digelar di Salatiga. Namun, ia menekankan pentingnya rekomendasi dari PBSI dalam setiap penyelenggaraan kejuaraan agar proses pembinaan atlet dapat dipantau dan berjalan sesuai standar.
“Semua kejuaraan sebaiknya mendapatkan rekomendasi PBSI agar terpantau, terukur, dan memiliki standar penyelenggaraan yang baik demi kepentingan atlet maupun penyelenggara,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Salatiga, Danang Budi Santoso, mengapresiasi konsistensi PBSI Kota Salatiga dalam menyelenggarakan Kejurkot sebagai sarana pembinaan atlet.
“Kejuaraan tersebut menjadi bukti sinergi antara pemerintah daerah dan insan olahraga dalam menyiapkan generasi atlet masa depan yang mampu mengharumkan nama Salatiga,” ucapnya.***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Fian

































