SEMARANG, Lingkarjateng.id – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah (Jateng) memperkirakan kebutuhan ikan lele untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mencapai 30 ribu ton per tahun.
Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi, menjelaskan bahwa perhitungan tersebut didasarkan pada kebutuhan 1.596 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Jawa Tengah. Dalam satu minggu, menu MBG menggunakan lele. Setiap SPPG menyiapkan sekitar 3.000 porsi atau setara 300 kilogram ikan.
“Saat ini sudah ada lebih dari 1.500 SPPG, dan jumlahnya terus bertambah. Jika dihitung total, kebutuhan lele bisa mencapai 30.000 ton per tahun,” jelas Endi, Jumat, 10 Oktober 2025.
Menurutnya, angka tersebut baru berasal dari satu jenis ikan, yakni lele. Jika ditambah dengan komoditas lain seperti bandeng dan nila, potensi serapan ikan untuk program MBG akan jauh lebih besar.
“(Perhitungan) ini hanya ilustrasi. Potensinya sangat luar biasa untuk kebutuhan MBG. Bahkan sebelum adanya program ini, kebutuhan ikan air tawar di Jateng sudah tinggi. Untuk lele saja, sebelum MBG sudah mencapai 29 ribu ton per tahun,” ungkapnya.
Melihat potensi besar tersebut, DKP Jateng kini berupaya mengoptimalkan kapasitas budidaya ikan di berbagai daerah.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menghidupkan kembali tambak-tambak idle untuk digunakan sebagai lahan budidaya nila salin dan lele.
“Jawa Tengah sedang berusaha meningkatkan produktivitas lele dengan memanfaatkan tambak-tambak idle. Produksi nila salin ini juga akan memperkuat produktivitas ikan air tawar di daerah kita. Kami optimistis, optimalisasi tambak idle dan dukungan dari program MBG akan berdampak besar pada peningkatan hasil produksi perikanan di Jawa Tengah,” ujar Endi.
Berdasarkan data DKP Jateng, produksi nila salin pada tahun 2024 mencapai 11 ribu ton dari lahan seluas 4,41 hektare. Tahun 2025 ditargetkan naik menjadi 11.100 ton, dan meningkat signifikan pada 2026 menjadi 18.200 ton dengan perluasan lahan menjadi 7,29 hektare.
Selanjutnya, target produksi diproyeksikan naik menjadi 33.500 ton pada 2027, 48.700 ton pada 2028, dan 48.800 ton pada 2029.
“Tahun depan kami akan mengusulkan kawasan nila salin di Pati agar bisa dijadikan kampung budidaya, sejalan dengan program pemerintah pusat yang tengah mendorong kampung tematik untuk beberapa komoditas seperti lele, bandeng, dan nila salin,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid































