Salatiga (lingkarjateng.id) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Salatiga memetakan sejumlah wilayah rawan kekeringan pada musim kemarau tahun 2026 ini.
Dari hasil pemetaan terbaru, Kelurahan Kumpulrejo dan Randuacir di Kecamatan Argomulyo diprediksi menjadi wilayah paling terdampak, khususnya pada lahan pertanian sawah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Salatiga, Sutarto, mengungkapkan hasil pemetaan menunjukkan beberapa titik membutuhkan suplai air bersih melalui bantuan tandon air.
“Wilayah paling berpotensi terdampak kekeringan tahun ini adalah Kelurahan Kumpulrejo dan Randuacir, terutama untuk sektor pertanian,” kata Sutarto, pada Selasa 5 Mei 2026.
Sutarto mengungkapkan, di Kecamatan Argomulyo, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kumpulrejo, yakni Belon membutuhkan 2 tandon air, Bumi Perkemahan 3 tandon, serta RT 001 dan RT 004 RW 005 membutuhkan 2 tandon.
Sementara di Kelurahan Randuacir, RT 003 RW 003 membutuhkan 1 tandon air. Sedangkan Kelurahan Noborejo, tepatnya RT 001 dan RT 003 RW 002, membutuhkan 2 tandon air.
Selain itu, wilayah rawan kekeringan juga terpetakan di Kecamatan Sidorejo dan Sidomukti. Di Kelurahan Bugel, Kecamatan Sidorejo, tepatnya RT 002 RW 007 membutuhkan 1 tandon air.
“Adapun di Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, RW 003 dan RW 005 juga membutuhkan 1 tandon,” terangnya.
Menurutnya, indikator utama penetapan wilayah rawan kekeringan meliputi terbatasnya jaringan pipa PDAM, berkurangnya debit air, kondisi dataran tinggi, serta minimnya tanaman penyerap air. BPBD menilai dampak kekeringan di Salatiga cukup signifikan.
“Penurunan debit sumber air menyebabkan distribusi PDAM terganggu dan harus dilakukan sistem giliran di sejumlah wilayah,” tandasnya. ***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Fian


































