KAB. SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang meluncurkan tiga proyek perubahan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Semarang Berdikari.
Peluncuran dilakukan secara simbolis oleh Bupati Semarang Ngesti Nugraha bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dengan pemukulan gong di Balai Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Selasa, 28 Juli 2026.
Tiga program tersebut meliputi Pangan Berdikari yang digagas Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap); Sadewa dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); serta Gada Krisna yang diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol).
Pangan Berdikari difokuskan pada peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui pengembangan agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan, pemanfaatan digitalisasi data, kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta penguatan kemandirian petani.
Sementara Sadewa dirancang sebagai strategi deteksi, edukasi, dan kewaspadaan bencana berbasis pentahelix menuju Desa Tangguh Bencana (Destana).
Adapun Gada Krisna diarahkan untuk mendukung terbentuknya desa bersih narkoba.
Bupati Ngesti mengatakan ketiga proyek tersebut saling melengkapi dalam mendukung pembangunan daerah, mulai dari penguatan sektor pertanian, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, hingga pencegahan penyalahgunaan narkotika.
“Proyek pertama Pangan Berdikari yang digagas oleh Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Bapak Moh Edy Sukarno yang kami nilai sangat bagus sekali sebagai upaya peningkatan produktivitas hasil pertanian dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pertanian moderen Kabupaten Semarang,” katanya.
Menurut Ngesti, salah satu fokus Pangan Berdikari adalah mendorong regenerasi petani melalui peningkatan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Program tersebut juga mengedepankan penggunaan alat dan mesin pertanian modern seperti drone, mini combine harvester, dan transplanter guna meningkatkan efisiensi biaya produksi.
“Contohnya penggunaan transplanter saja, yang biasanya dalam 1 hektare (ha) lahan bisa menelan biaya tanam sampai sekitar Rp3,2 juta dengan penggunaan transplanter bisa menekan biaya tanam menjadi Rp1,1 juta, sehingga dalam 1 ha lahan itu hanya tersisa biaya Rp2,1 juta dan ini efisiensinya sampai 30 persen dalam 1 ha apalagi jumlah lahan di Kabupaten Semarang ini sangat luas tentu meringankan biaya tanam,” paparnya.
Ia menjelaskan, sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Semarang karena dari total luas wilayah sekitar 101.927 hektare, sebanyak 74.234,25 hektare atau 72,83 persen merupakan lahan pertanian.
Program Pangan Berdikari diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan, mulai dari degradasi lahan, krisis regenerasi petani, perubahan iklim, hingga keterbatasan air.
Selain sektor pertanian, Ngesti menilai proyek Sadewa juga memiliki peran penting mengingat Kabupaten Semarang memiliki sejumlah wilayah yang rawan bencana.
Menurutnya, program tersebut akan memperkuat sistem mitigasi sekaligus mempercepat respons terhadap kejadian bencana.
“Dan di musim kemarau ini yang kita hadapi adalah bencana kekeringan dan kebakaran, dan untuk menanganannya, BPBD sudah menyiapkan sejumlah air bersih untuk kebutuhan droping air di masyarakat yang terdampak melalui Sadewa tersebut sehingga penanganannya cepat dan tepat,” terang Ngesti Nugraha.
Sementara itu, melalui Gada Krisna, Pemkab Semarang berupaya memperkuat upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba hingga tingkat desa. Program tersebut akan diintegrasikan dengan berbagai kegiatan pemerintah sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Karena narkoba ini menjadi musuh kita bersama khususnya untuk generasi muda, dan dampak dari narkoba ini juga sangat sulit diselesaikan, sehingga akan merusak masa depan,” paparnya.
Jurnalis: Hesty Imaniar
Editor: Rosyid


































