Semarang (lingkarjateng.id) – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang mengingatkan potensi kelangkaan BBM jenis Biosolar di akhir tahun 2026 yang berisiko mengganggu operasional sekitar 12 ribu angkutan barang dan penumpang di Jawa Tengah.
“Kelangkaan solar kerap menjadi persoalan ketika memasuki penghujung tahun. Kondisi tersebut dapat menyebabkan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU,” ujar Ketua Organda Kota Semarang Bambang Pranoto Purnomo, baru baru ini.
Pihaknya pun mewaspadai terhadap potensi kelangkaan BBM, khususnya solar subsidi yang digunakan kendaraan angkutan barang dan penumpang.
Menurutnya, Kota Semarang sendiri menjadi salah satu titik atau simpul pergerakan kendaraan angkutan di Jawa Tengah. Kendaraan barang dan penumpang dari berbagai daerah melintas di Kota Semarang sebelum meneruskan perjalanan menuju daerah lain.
“Jika kelangkaan kembali terjadi pada Oktober hingga Desember, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengemudi namun pengusaha angkutan juga dapat terkena dampak karena kendaraan membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM,” tegas Bambang.
Ia mengungkapkan beberapa tahun lalu, antrean kendaraan bahkan sempat mengular di kawasan Krapyak, Kota Semarang. Jika waktu tunggu pengisian BBM bertambah panjang, perjalanan angkutan barang maupun penumpang juga berpotensi terhambat.
“Kalau dihitung yang masuk Organda di Jawa Tengah mencapai 12 ribu unit di Jateng. Bisa dibayangkan jika kelangkaan terjadi di akhir tahun,” jelas Bambang.
Meskipun sejauh ini belum ada perubahan tarif jasa angkutan barang dan penumpang secara serentak akibat persoalan BBM, namun, apabila kelangkaan benar-benar terjadi, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya operasional angkutan.
Sebab, pengemudi maupun perusahaan angkutan tidak memiliki banyak pilihan ketika kendaraan membutuhkan BBM untuk perjalanan. “Kalau solar subsidi sulit didapat, tentu kami yang di lapangan akan kesulitan. Harapannya jangan sampai terjadi kelangkaan,” katanya.
Seperti diketahui , harga BBM diesel nonsubsidi terus meroket sepanjang 2026. Data per September 2026 mencatat harga Dexlite melonjak hingga Rp23.700 per liter atau naik 75,6 persen dibanding harga Januari yang berada di angka Rp13.500.
Sementara itu, Pertamina Dex menembus Rp25.200 per liter, melonjak 85,3 persen dari posisi awal tahun sebesar Rp13.600.
Dengan harga Biosolar subsidi yang bertahan di angka Rp6.800 per liter, disparitas harga menjadi sangat jauh. Saat ini, harga Dexlite mencapai 3,5 kali lipat dan Pertamina Dex 3,7 kali lipat dari harga Biosolar. Sehingga bagi para pengemudi banyak beralih ke BBM nonsubsidi. (Lingkar Network/Rizky)***
Editor : Adi Arfian





























