Semarang (lingkarjateng.id) – Kemarau panjang disertai fenomena El-nino Godzila menyebabkan sejumlah daerah di Jawa Tengah mengalami kekeringan. Upaya Pemprov Jateng mendorong BNPB untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sejumlah masyarakat juga turut melakukan kegiatan spiritual dengan Salat Istisqa.
Seperti yang dilakukan warga Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, mereka menggelar salat istisqa di Alun-alun Panjangan untuk memohon agar hujan lekas turun di tengah musim kemarau yang mengakibatkan kebakaran dan kekeringan.
Rangkaian salat istisqa dimulai dengan khotbah dari imam dan dimulai sekira pukul 10.00 WIB. Tak hanya warga sekitar, tampak Wakil Walikota Semarang Iswaruddin juga turut hadir dan bergabung mengikuti Salat Istisqa dengan penuh hikmad.
“Kegiatan ini sebagai bentuk harapan atau ikhtiar kepada tuhan untuk meminta segera diturunkan hujan,” kata Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin di Masjid Baitul Iman, Minggu (4/9/2026).
Iswar menyebut pihaknya juga menginformasikan bahwa menurut prediksi BMKG, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026. Dia berharap kegiatan itu dapat menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera turun.
Selain itu kebakaran yang melalap TPA Jatibarang juga dapat diatasi. Meskipun saat ini telah mulai padam namun dengan turunnya air hujan bisa sepenuhnya menghilangkan suhu panas sisa kebakaran di TPA yang berada di Kecamatan Mijen Semarang.
“Sudah padam sejak semalam. Cuma memang harus diantisipasi karena suhu di bawah itu kalau kita lihat dari drone thermal, kelihatan suhunya masih tinggi. Artinya gas metana ini kan masih sangat berbahaya, berpotensi untuk kembali mengeluarkan api,” katanya.
Dikatakan, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saat ini masih melakukan langkah antisipasi. Dia berharap, kebakaran di TPA Jatibarang tidak kembali muncul.
Sementara itu, Imam sekaligus khatib salat istisqa, Danusiri mengatakan, salat Istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon hujan sekaligus mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap kondisi lingkungan.
“Kerusakan bumi, kerusakan ekologi, kerusakan ekosistem itu lebih banyak akibat perbuatan kecerobohan kita sendiri. Karena itu banyak sekali pelajaran-pelajaran sejak zaman kuno, kalau kita maksiat terus secara massal kepada Allah, Allah akan memperingatkan,” kata Danusiri.
Salah satu warga yang mengikuti salat istisqa, Sri Mulyati (40) mengaku, mengikuti salat istisqa karena merasa perlu menunjukkan kepedulian terhadap warga yang terdampak kebakaran dan kondisi kemarau.
“Karena kepedulian kami sesama umat, sesama manusia. Kita punya inisiasi untuk saling peduli bahwasanya jika kebakaran itu sampai dirasakan oleh warga sekitar, kita kasihan,” ujarnya. (Lingkar Network/Rizky)***
Editor : Adi Arfian






























