SALATIGA, Lingkarjateng.id – Harga daging sapi di Kota Salatiga Tembus Rp 140.000 per kilogram (kg). Kondisi ini membuat pedagang kelimpungan. Akhirnya seratusan pedagang memilih menutup lapak mereka di los daging sapi di Lantai 2 Pasar Raya 1 Salatiga selama 5 hari, 22 -26 Juni 2026.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Salatiga atas kelangkaan sapi siap potong yang memicu lonjakan harga daging. Kondisi tersebut juga membuat mereka terus merugi dalam beberapa bulan belakangan.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Salatiga, Apri mengatakan, dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) beberapa tahun lalu masih dirasakan hingga sekarang.
Menurutnya, populasi sapi siap potong belum pulih, sementara banyak peternak masih enggan kembali beternak karena khawatir dengan risiko penyakit dan tingginya biaya produksi.
“Masalahnya sapinya langka. Itu mulai sejak adanya wabah PMK beberapa tahun lalu. Akhirnya sapi semakin sedikit dan peternak juga masih ketakutan untuk ternak sapi lagi,” ungkapnya, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebagian peternak memang masih memiliki ternak, namun mayoritas masih berupa anakan sehingga belum bisa dipasarkan. Selain itu, mahalnya harga pakan serta pelemahan nilai tukar rupiah ikut mendorong kenaikan biaya usaha peternakan.
Akibatnya, harga sapi terus meningkat dan berdampak pada harga daging sapi di pasaran. Saat ini, harga daging sapi di Salatiga mencapai Rp 140.000 per kilogram atau naik sekitar Rp 15.000 dibanding harga normal yang berada di kisaran Rp 125.000 per kilogram.
“Kalau terakhir ini di Salatiga Rp 140.000 per kilogram. Kalau harga normal itu sekitar Rp 125.000 per kilogram,” katanya.
Kenaikan harga tersebut mulai dirasakan sejak setelah Idul Fitri dan kembali meningkat pasca Idul Adha. Namun, tingginya harga daging justru membuat daya beli masyarakat menurun.
Banyak konsumen memilih beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau seperti ayam dan tempe. Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menjual daging dan harus menanggung kerugian setiap hari.
“Hampir setiap hari kami merugi. Potong satu sapi bisa rugi Rp 7 juta, kalau pengecer rugi sekitar Rp 2 juta. Masyarakat nggak mampu dengan harga segitu. Pembeli lebih memilih tempe dan ayam yang harganya lebih murah,” katanya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Sekar






























