Pekalongan (lingkarjateng.id) – Festival Literasi Kabupaten Pekalongan 2026 bertema “Literasi Konservasi Air” dengan slogan “Air Terjaga, Bumi Terasa, Generasi Berdaya” menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian air dan lingkungan.
Kegiatan yang digelar di Halaman Perpustakaan Daerah Kabupaten Pekalongan, pada Jumat (21/8), tersebut menghadirkan Lintas Komunitas Peduli Pekalongan (LKPP), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Pekalongan, serta Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah IV Provinsi Jawa Tengah.
Ketua LKPP, Handono Warih, mengatakan air merupakan kebutuhan seluruh makhluk hidup sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara bijaksana.
“Pengguna air itu seluruh makhluk hidup yang ada di bumi ini. Jadi, mari kita jaga dan gunakan air sebijaksana mungkin. Karena bukan hanya diri kita yang membutuhkan atau menggunakan air,” kata Handono.
Dalam kesempatan tersebut, LKPP juga memperkenalkan Ficus Nursery Center, sebuah tempat pembibitan tanaman ficus. Handono mengatakan pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat maupun kalangan akademik untuk berkolaborasi dalam donasi dan penanaman bibit.
“Kami juga menerima donasi ficus dan bibit tanaman. Kami juga menyalurkan dan mendonasikannya kepada wilayah-wilayah yang membutuhkan,” ujarnya.
Sedangkan, perwakilan CDK IV Provinsi Jawa Tengah, Teguh Winarno, menekankan pentingnya penanaman pohon sebagai salah satu langkah menjaga ketersediaan air sekaligus memperbaiki kondisi iklim.
“Dengan menanam pohon kita bisa menyelamatkan air, kita bisa menjaga agar iklim kita juga semakin baik. Dampak El Nino itu bisa diminimalisir dengan adanya banyak orang yang menanam pohon,” jelasnya.
Teguh juga mengajak masyarakat memperkuat kepedulian terhadap hutan dan sungai. Ia mendorong masyarakat untuk menanam pohon sebanyak-banyaknya, bahkan menargetkan minimal 25 pohon per individu.
“Jangan seenaknya menebang pohon. Sebanyak-banyaknya mari kita menanam pohon, minimal 25 pohon per individu. Kemudian juga jangan membuang sampah di sungai. Mari kita jaga sungai kita biar tetap bersih, tetap lestari,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan Perkim LH Kabupaten Pekalongan Eva Retno Sari menyampaikan bahwa konservasi air tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan pemantauan kualitas air.
“Paling menonjol itu jelas pencemaran air yang menyebabkan penurunan kualitas air sungai. Kalau memang ada dugaan terjadinya pencemaran, masyarakat bisa menyampaikan aduan ke dinas,” ungkap Eva.
Ia menambahkan, upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya pemerintah. “Kami mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan hidup, untuk berkolaborasi menjaga lingkungan dan alam kita agar tetap lestari,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Redaksi































