Batang (lingkarjateng.id) – Terungkap fakta mengejutkan di balik kasus dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang, Kabupaten Batang yang mengakibatkan ratusan warga mulai anak-anak hingga lansia harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit.
Awal Mula Peristiwa
Ratusan warga mengalami keracunan usai menyantap Makan Gizi Gratis (MBG) pada Rabu (23/9) pagi setelah sebelumnya MBG diberikan pada Selasa (22/9) siang.
Salah satu pasien, Lia Nisa (28), warga Candigugur, Kecamatan Bawang, mengaku baru masuk RSUD sejak Jumat (25/09). Selama beberapa hari ia hanya menjalani rawat jalan dari Puskesmas Bawang. Namun, karena tidak kunjung pulih, ia kemudian dievakuasi ke RSUD Kalisari Batang.
“Kemarin pagi (masuk rumah sakit). Tadinya rawat jalan dari Puskesmas Bawang. Karena nggak sembuh dan tambah sakit, kemudian ke sini,” kata Lia ditemui wartawan.
Menurut Lia, sebelum mengalami keluhan tersebut, dirinya mengonsumsi makanan MBG yang dibawa anaknya dari sekolah. Ia menyebut makanan yang dikonsumsi berupa telur dan buah anggur. Telur tersebut merupakan sisa makanan anaknya yang tidak habis dimakan.
Mobil Ambulans Hilir Mudik Bawa Korban
Suasana panik dan mencekam saat puluhan ambulans hilir mudik mengangkut korban ke IGD Puskesmas Bawang.
“Sejak Rabu kemarin siang, Pak. Evakuasi pasien dari rumah, dari pondok, terus dibawa ke sini,” ujar Mustakim (35) di sela kesibukannya mengantar pasien ke RSUD Kalisari Batang, Jumat (25/9/2026).
Sejak Rabu siang (23/9) hingga malam, raung sirene ambulans terus memecah suasana dingin di Kecamatan Bawang, Batang. Jumat pagi (25/9), sirene ambulans kembali menyibak jalanan di Kecamatan Bawang. Deretan ambulans juga sempat mengular hingga ratusan meter.

Para Korban Dirujuk ke Sejumlah RS
Korban yang diduga mengalami keracunan MBG dilarikan ke sejumlah rumah sakit seperti RSUD Kalisari Batang, RSUD Limpung dan beberpaa layanan kesehatan lainnya diantaranya Puskesmas Gringsing, Puskesmas Subah, Puskesmas Bandar dan lainnya.
Sementara itu, pihak SPPG Bawang dan Yayasan Bela Batang Sejahtera pun buka suara buntut ratusan warga keracunan MBG.
“Jadi kemarin itu kita menunya ada nasi putih, telur bumbu balado, mix sayur, terus buahnya buah anggur. Sama tahu putih, tahu putih goreng,” kata Kepala SPPG Bawang, Agung Dendi Santoso, kepada awak media ditemui di SPPG Bawang, Batang, Kamis (24/9/2026).
Agung mengatakan, menu tersebut telah diberikan sebanyak dua kali kepada penerima manfaat MBG. Atas kejadian tersebut, SPPG Bawang akan melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Menu itu sudah dua kali. Yang pertama tidak apa-apa. Kita akan evaluasi total, entah itu dari bahan maupun dari proses, dari proses masaknya ataupun dari relasinya juga,” ujar Agung.
Jumlah Korban Total 589 Orang
Menurut data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Batang hingga Sabtu (26/9) total jumlah korban yang diduga mengalami keracunan MBG mencapai 589 orang.
“Jumlah kasus dugaan keracunan makanan update tanggal 26 September 2026 pukul 07.00 WIB, total kasus ada 589,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida melalui pesan singkat yang diterima, Sabtu (26/9/2026).
Dari total tersebut, sebanyak 127 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Batang.
Rinciannya, 55 pasien masih menjalani rawat inap di RSUD Batang, 35 pasien dirawat di RSUD Limpung, 17 pasien di Puskesmas Bawang, 10 pasien di Puskesmas Subah, dua pasien di Puskesmas Gringsing, dan delapan pasien di Puskesmas Bandar.
Sementara itu, sebagian korban lainnya telah mendapatkan penanganan dan diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Temuan Awal BGN Soal Rekaman CCTV
Badan Gizi Nasional (BGN) Perwakilan Jawa Tengah menemukan sejumlah temuan dalam investigasi awal dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Bawang, Kabupaten Batang.
Temuan tersebut salah satunya berkaitan dengan waktu pengolahan makanan. Salah satunya alur pengolahan makanan yang tidak sesuai, termasuk proses memasak lauk telur yang dicurigai menjadi penyebab keracunan.

Berdasarkan pengecekan rekaman CCTV, pengolahan makanan disebut sudah dimulai sekitar pukul 19.30 WIB.
Kepala KPPG Semarang BGN, Hadiriajaya mengatakan, waktu tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam investigasi awal. Sebab, menurutnya, pengolahan makanan dalam SOP seharusnya dilakukan setelah pukul 02.00 WIB.
“Dari investigasi awal yang kami temukan melalui pengecekan CCTV, di situ kami melihat adanya pengolahan makanan yang lebih awal, dilakukan pengolahan mulai dari pukul 19.30,” kata Hadiriajaya saat meninjau SPPG Bawang kepada awak media, Kamis (24/9) siang.
Menurut Hadi, waktu pengolahan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang disebut dalam SOP. Ia menyebut kondisi itu menjadi temuan yang perlu ditindaklanjuti dalam evaluasi SPPG. “Kalau di SOP itu harusnya dilakukan pengolahan setelah jam 2 dini hari,” ujarnya.
BGN Minta SPPG Diaudit Maksimal
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan mengatakan jika dirinya telah melaporkan perkembangan kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Bawang secara langsung kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono.
Menurutnya, Kepala BGN Sudaryono meminta dilakukan audit secara maksimal, disertai monitoring dan investigasi terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah setempat.
“Saya sudah telepon Pak Sudaryono dan menyampaikan laporan kondisi ini, beliau menyampaikan tolong diaudit semaksimal mungkin Pak Bupati dan tolong juga di semua SPPG untuk dilakukan monitoring dan investigasi,” kata Bupati Faiz bersama Yoyok Riyo Sudibyo saat mengunjungi korban keracunan MBG di RSUD Batang pada Kamis, (24/9) siang.
Ia menyebut hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan penutupan apabila ditemukan persoalan yang memerlukan penghentian operasional.
Faiz memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden keracunan tersebut. Menurutnya, seluruh biaya pengobatan korban ditanggung Pemkab Batang karena kejadian dugaan keracunan MBG dikategorikan sebagai kondisi force majeure.
11 Lembaga Pendidikan Penerima Manfaat
Pemerintah mencatat sedikitnya 11 satuan pendidikan dan lembaga pendidikan berada dalam cakupan layanan SPPG tersebut. Seluruhnya berada di Kecamatan Bawang.
Sebelas lembaga tersebut terdiri atas TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Namun, keberadaan lembaga tersebut dalam daftar penerima manfaat tidak berarti seluruh siswa atau warga dari masing-masing lembaga menjadi korban. Pemerintah masih melakukan verifikasi terhadap sebaran korban.

Sampel Makanan Diuji di Laboratorium
Pemerintah daerah juga mengambil sampel makanan untuk dilakukan pengujian laboratorium. Hadi menyampaikan apresiasi kepada Bupati Batang, Satgas, dan terutama Dinas Kesehatan yang terlibat dalam proses investigasi tersebut.
“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati, kemudian Satgas, terutama Dinkes untuk melakukan investigasi pengambilan sampel makanan untuk dilakukan uji lab,” ujar Kepala KPPG Semarang BGN, Hadiriajaya.
Hadi juga menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut. Menurutnya, penanganan korban menjadi fokus utama BGN bersama pemerintah daerah. “Yang pertama, kami meminta maaf atas kejadian ini,” katanya.
SPPG Ditutup Sementara 30 Hari
BGN telah melaporkan kondisi SPPG Bawang kepada tingkat pusat untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut. Sementara itu, operasional SPPG tersebut dihentikan selama 30 hari.
Hadi menyebut penghentian sementara tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah korban yang cukup besar. Ia menyebut kejadian tersebut masuk kategori suspend berat.
“Ini juga sudah dilakukan penutupan sementara selama 30 hari. Karena ini berdasarkan jumlah korban, ini kategori suspend berat,” ujarnya.
Imbas Kasus Keracunan MBG, Kepala SPPG Dicopot
Imbas dari kelalaian fatal ini, Kepala Dapur SPPG Bawang resmi dinonaktifkan. Wakil Kepala BGN, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Trenggono, menegaskan bahwa sanksi tegas telah dijatuhkan sembari menunggu hasil investigasi menyeluruh.
“Itu salah informasi. Setiap ada kejadian, apakah itu keracunan dan lain-lain, secara otomatis kepala dapur dan operasional dapur langsung dihentikan,” tegas Trenggono menampik isu bahwa kepala dapur masih aktif, Sabtu 26 September 2026.
Walau sudah dicopot dari jabatannya, namun yang bersangkutan masih diperlukan untuk menyelesaikan sejumlah hal. Berkaitan dengan dapur yang sedang dihentikan operasionalnya.
“Secara resmi dia sudah dicopot dari dapur itu, namun ada hal-hal yang perlu diselesaikan di dapur. Artinya pembenahan-pembenahan dan sebagainya nanti akan ditangani,” imbuhnya.
Kelalaian Tim Ahli Gizi
Kesalahan paling fatal ditemukan pada penanganan lauk telur yang proses jeda masaknya terlalu lama sehingga rentan memicu bakteri. “Banyak alur mekanisme bahan ini yang tidak pas.,” ungkapnya.
Trenggono juga menyoroti kelalaian tim ahli gizi setempat. “Ketidakpahaman ahli gizi, telur dimasaknya jam 08.30, terus jam 03.45 baru di-steamer, itu sudah salah,” bebernya.

SPPG di Suspend Berat
Kondisi tersebut membuat operasional dapur langsung dihentikan (suspend). Ancaman penutupan permanen pun menanti jika hasil uji laboratorium membuktikan kelalaian berat. “Dapur tidak operasional, di-suspend. Apalagi sampai dampak seperti ini, mungkin suspend berat, ke arah suspend permanen nanti,” jelasnya.
Selain temuan di dapur, Trenggono yang menyempatkan diri menjenguk para pasien di RSUD Batang menemukan fakta lain yang tak kalah penting. Banyak makanan MBG yang seharusnya dikonsumsi langsung oleh siswa di sekolah, justru dibawa pulang.
Makanan tersebut kemudian dikonsumsi oleh anggota keluarga lain pada waktu yang berbeda, bahkan hingga malam hari, padahal makanan telah melewati batas waktu aman konsumsi.
“Berdasarkan yang tadi saya tanyakan kepada terdampak, baik siswa maupun ada juga orang tua, memang mungkin ada sedikit miss karena makanan ini sempat dibawa oleh anaknya ke rumah,” kata Trenggono.
MBG Tidak Boleh Dibawa Pulang
Atas insiden ini, BGN mengeluarkan peringatan keras bahwa makanan MBG memiliki label batas waktu dan tidak boleh dibawa pulang.
BGN juga akan berkoordinasi dengan sekolah untuk memperketat pengawasan. Sehingga perlu keterlibatan guru dan PIC sekolah untuk pendisiplinan, bahwa makanan yang diberikan diperuntukkan untuk siswa. “Tidak ada MBG itu yang dibawa pulang, tidak boleh,” tegasnya.
Lebih lanjut, BGN menyoroti buruknya kerja sama antara yayasan dan mitra pengelola dapur terkait penyediaan fasilitas. Jika tidak ada iktikad perbaikan, BGN tak segan memutus kemitraan. “Kalau dia saja sudah tidak bisa bekerja sama dengan baik, ya sudah kita tutup dapurnya,” ancam Trenggono.
Di balik insiden ini, BGN memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Batang atas penanganan darurat yang cepat tanggap. “Kami berterima kasih kepada Pemda Kabupaten Batang yang begitu cepat, begitu sigap dibantu dengan jajarannya, apakah itu dari Polres, Kodim, BPBD, dan lainnya,” katanya.
Trenggono mengajak seluruh elemen daerah, termasuk Bupati Batang, untuk terus mengawal ketat jalannya program ini agar kejadian serupa tidak terulang di wilayah lain. “Semua berhak mengawasi, bukan hanya dari BGN saja. Pemda, Bapak Bupati dan jajaran ikut membantu mengawasi,” pungkasnya.***





























