Pekalongan (lingkarjateng.id) – Pemerintah dan masyarakat desa di wilayah Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, didorong untuk melakukan upaya mitigasi perubahan iklim dan penanggulangan bencana melalui rencana aksi.
Hal itu mengemuka saat kegiatan “Peningkatan Kualitas Kebijakan melalui Media Tradisional & Diseminasi Hasil Kajian Aksi Adaptasi dan Mitigasi terhadap Dampak Perubahan Iklim dan Rencana Implementasi” di Desa Bubak, Kecamatan Kandangserang, Pekalongan, Sabtu (19/9).
Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Harun Abdul Khafizh, mengatakan upaya mitigasi perlu dilakukan dari hulu hingga hilir, terlebih Jawa Tengah telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana di Jawa Tengah. “Jadi upaya-upaya mitigasi bencana dari hulu sampai hilir perlu dilakukan,” kata Harun.
Ia menyebut kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat desa, mulai dari kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kelompok tani perempuan, hingga pegiat lingkungan. Mereka sebelumnya telah melakukan pendampingan selama hampir enam bulan di sejumlah desa untuk mengidentifikasi upaya mitigasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap potensi bencana.
“Hampir semua desa, kepala desa, BPD, kelompok tani perempuan, serta pegiat lingkungan sudah bekerja hampir enam bulan ini mendampingi desa-desa untuk melakukan upaya mitigasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap kemungkinan terjadinya bencana di sini,” jelasnya.
Harun berharap hasil kajian dan masukan yang telah dihimpun dapat segera diterjemahkan menjadi rencana aksi atau tindak lanjut bersama sejumlah pihak, di antaranya Perkim LH, BPDAS, serta Dinas LHK Provinsi Jawa Tengah.
“Dan semudah-mudahan sesuai dengan komitmen yang tadi kita canangkan, insyaallah akan segera kita laksanakan rencana aksinya atau rencana tindak lanjutnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Konservasi Foresteri Indonesia (KF), Imam Setio, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses kajian dan aksi terhadap dampak perubahan iklim yang dilakukan secara partisipatif di 10 desa di Kecamatan Kandangserang.
Menurutnya, salah satu hal yang menarik dari diskusi tersebut, lanjut Imam, adalah pemaparan mengenai teknik konservasi air dan upaya menyimpan air ketika musim hujan.
Ada sejumlah metode yang dapat diterapkan masyarakat, di antaranya pembuatan sumber resapan, biopori, serta penanaman vetiver sebagai langkah awal konservasi.
“Paling tidak ada model-model bagaimana menabung air ketika hujan. Bisa menggunakan sumber resapan, bisa menggunakan biopori, maupun dengan teknik menanam vetivera sebagai langkah konservasi awal,” ujarnya.
Imam berharap hasil perencanaan yang disusun masyarakat desa tidak berhenti pada tahap kajian dan diskusi. Menurutnya, dukungan pemegang kebijakan diperlukan agar rencana tersebut dapat diterapkan di lapangan.***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Adi Arfian































