KENDAL, Lingkarjateng.id – BPBD Kabupaten Kendal menggelar Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana dalam Program Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Kesiapsiagaan Musim Kemarau Tahun 2026 di Aula Kantor Kecamatan Pageruyung, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan BPBD Kabupaten Kendal, BPBD Provinsi Jawa Tengah, DPRD Kabupaten Kendal, TNI/Polri, organisasi masyarakat, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), relawan, serta unsur pemerintah dan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kendal, Ali Sutariyo, berharap melalui sosialisasi KIE masyarakat Kecamatan Pageruyung dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
Pasalnya, berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Kendal, Kecamatan Pageruyung memiliki delapan potensi bencana. Ancaman tersebut antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan serta epidemi dan wabah penyakit.
“Pemerintah berharap masyarakat semakin memahami potensi bencana di wilayahnya dan mampu melakukan mitigasi sejak dini, terutama dalam menghadapi puncak musim kemarau 2026,” katanya.
Memasuki Agustus yang menjadi periode puncak musim kemarau, ia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Tengah, Wahjoedi Fadjar, mengingatkan kesiapsiagaan bencana harus dimulai dari setiap individu. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.
“Salah satu keterampilan yang dinilai penting adalah kemampuan berenang, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai atau kawasan rawan banjir,” ungkapnya.
Plt Camat Pageruyung, Ahmad Sodikin, menyampaikan kondisi geografis Pageruyung yang berada di kawasan dataran tinggi membuat sejumlah wilayah memiliki potensi bencana, terutama tanah longsor.
“Wilayah Pageruyung memiliki potensi bencana, khususnya tanah longsor,” katanya.
Menurutnya, ancaman longsor juga perlu diperhatikan setelah musim kemarau berakhir, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut.
Oleh karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dan dilanjutkan dengan praktik di lapangan bersama relawan.
“Sosialisasi mitigasi bencana penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya. (Adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Rosyid































