BLORA, Lingkarjateng.id – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora mencatat 50.740 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Januari hingga Juni 2026.
Kepala Dinkesda Blora, Edi Widayat, mengatakan peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau yang disertai cuaca panas dan kering perlu diwaspadai karena berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, termasuk ISPA.
“Saat ini terjadi transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ujar Edi, Jumat, 24 Juli 2026.
Edi menjelaskan dari total 50.740 kasus ISPA pada semester pertama tahun 2026, sebanyak 2.698 kasus merupakan pneumonia, sementara 48.042 kasus lainnya bukan pneumonia.
Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA di Blora paling banyak ditemukan pada kelompok dewasa dengan 22.049 kasus, terdiri atas 545 kasus pneumonia dan 21.504 kasus bukan pneumonia.
Pada kelompok balita tercatat 8.727 kasus ISPA, terdiri atas 1.408 kasus pneumonia dan 7.319 kasus bukan pneumonia. Sementara kelompok lansia mencatat 8.123 kasus, yakni 332 kasus pneumonia dan 7.791 kasus bukan pneumonia.
Selanjutnya, kelompok anak mencatat 6.001 kasus, terdiri atas 248 kasus pneumonia dan 5.753 kasus bukan pneumonia.
“Adapun pada kelompok remaja tercatat 5.840 kasus, dengan 165 kasus pneumonia dan 5.675 kasus bukan pneumonia,” katanya.
Edi mengatakan kondisi cuaca panas dan kering serta perubahan cuaca secara mendadak perlu diantisipasi oleh masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Dinkesda Blora mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat, antara lain mengonsumsi makanan bergizi dan mencukupi waktu istirahat.
“Sehingga bisa menangkal penyakit-penyakit yang berhubungan dengan ISPA terutama,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA saat terjadi perubahan musim merupakan pola yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak lengah dan tetap menjaga kondisi tubuh selama menghadapi musim kemarau.
“Setiap tahun akan begitu karena perubahan iklim, perubahan cuaca. Jadi antisipasi yang paling penting, kesehatan masyarakat harus dijaga,” katanya.
Selain ISPA, Edi mengingatkan berbagai penyakit menular lainnya juga berpotensi muncul apabila kondisi lingkungan tidak terjaga.
Ia menekankan bahwa kebersihan lingkungan, higiene, dan sanitasi tetap menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran penyakit.
“ISPA dan penyakit menular lainnya memang berkaitan dengan kondisi lingkungan. Karena itu, higiene dan sanitasi harus terus dijaga oleh kita,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa






























