Pati (lingkarjateng.id) – Perairan di kawasan pesisir Banyutowo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah mengalami pendangkalan. Kondisi tersebut terjadi sejak pertengahan Oktober dan membuat nelayan tradisional kesulitan melaut dan mendaratkan hasil tangkapan.
Sebagian nelayan memaksakan diri berhenti melaut, sementara yang lainnya tetap beraktivitas meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menuju kapal.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Lestari Banyutowo, Sugiono, mengatakan pendangkalan mulai mengganggu aktivitas nelayan sejak pertengahan Oktober. Perahu tidak lagi bisa merapat ke tepi pantai karena perairan mengalami penyusutan kedalaman.
“Sejak pertengahan Oktober sudah tidak bisa menepi. Biasanya tidak pernah seperti ini, baru tahun-tahun ini,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (3/11) petang.
Menurut Sugiono, kondisi tersebut membuat nelayan harus menggunakan sampan untuk mencapai kapal yang berada di perairan lebih dalam. “Biaya penggunaan sampan bisa mencapai Rp150 ribu per hari,” ungkapnya.
Padahal, sebelum pendangkalan terjadi, nelayan dapat langsung menuju kapal dan beraktivitas seperti biasa. Kini, selain menghadapi kendala saat berangkat melaut, mereka juga kesulitan membawa hasil tangkapan ke daratan.
Ia menyebut, sekitar 60 hingga 70 nelayan tradisional biasanya melaut pada pagi maupun malam hari. Mereka menangkap berbagai jenis ikan, termasuk tongkol.
“Dampaknya tentu terhadap mata pencaharian. Harapannya ada solusi, terutama jembatan dari dermaga. Kalau sudah ada anggaran, segera dibangun,” harapnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengakui sedimentasi di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Banyutowo menjadi persoalan utama yang menyulitkan aktivitas nelayan.
Menurutnya, DKP Pati telah melakukan pengerukan sedimentasi sebagai penanganan sementara. Namun, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara permanen karena sedimentasi kembali terbawa ombak dan mengendap di kawasan perairan.
“Memang menjadi permasalahan utama di TPI Banyutowo. Sedimentasi cukup tinggi sehingga menyulitkan nelayan. Kami sudah melakukan pengerukan, tetapi kami tahu itu tidak menyelesaikan masalah karena sedimentasi akan kembali lagi,” jelasnya.
Hadi menyebut, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah pembangunan pemecah ombak serta jetty atau tambatan kapal. Kedua infrastruktur itu diharapkan bisa melindungi kawasan perairan dari masuknya sedimentasi sekaligus mempermudah akses nelayan menuju kapal.
DKP Pati telah mengusulkan pembangunan pemecah ombak dan jetty kepada DKP Provinsi Jawa Tengah. Usulan tersebut kembali disampaikan sekitar dua bulan lalu, mengingat kebutuhan anggaran pembangunan yang cukup besar.
“Perkiraan biayanya bisa mencapai Rp10 miliar lebih. Pemecah ombak menjadi solusi utama. Idealnya dibuat seperti kolam, dengan penahan ombak di sisi kiri dan kanan serta pintu masuk kapal, sehingga sedimentasi tidak masuk ke bagian tengah,” terangnya.
Hadi menjelaskan, kawasan tambatan kapal yang dibutuhkan diperkirakan memiliki lebar sekitar 120 meter dan menjorok ke laut hingga 300 meter. Infrastruktur jembatan yang sebelumnya dibangun di kawasan tersebut juga mengalami kerusakan akibat hantaman ombak.
“Di sisi kiri, jembatan yang panjangnya sekitar 250 meter dilaporkan putus, sedangkan bagian kanan hanya tersisa sekitar 30 meter dan dinilai belum memadai untuk mendukung aktivitas nelayan,” jelas Hadi. (Lingkar Network/Fahtur Rohman)***
Editor : Ady Arfian






























