JEPARA, Lingkarjateng.id – Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Agus Sutisna, mendorong pendidikan pesantren menjadi bagian penting dari investasi pembangunan sumber daya manusia.
Agus mengatakan pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, dan kepedulian sosial yang kuat.
Oleh karena itu, menurutnya, dukungan terhadap santri dinilai tidak cukup melalui bantuan finansial saja. Santri perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran dan perluasan akses pendidikan.
“Dukungan yang diberikan jangan hanya berhenti pada bantuan, tetapi juga harus mampu meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat kompetensi santri, dan membuka kesempatan mereka untuk melanjutkan pendidikan maupun berwirausaha,” ujarnya saat menghadiri apel peringatan Hari Santri Nasional di halaman Setda Jepara pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jepara telah memberikan perhatian terhadap pendidikan pesantren melalui sejumlah program dengan sasaran lembaga pendidikan keagamaan, tenaga pendidik, hingga peserta didik.
Salah satunya melalui Program Pesantren MULUS yang diarahkan untuk mendukung pengembangan pondok pesantren, mulai dari operasional hingga peningkatan fasilitas pembelajaran. Program tersebut juga membuka peluang bagi lulusan pesantren untuk melanjutkan pendidikan tinggi maupun mengembangkan usaha.
Dukungan bagi tenaga pendidik diwujudkan melalui Kartu Guru Sejahtera yang diluncurkan pada 31 Juli 2026. Program ini menjangkau 15.120 guru dan tenaga pendidik, termasuk guru TPQ, madrasah diniyah, pondok pesantren, serta guru agama lainnya.
Setiap penerima mendapatkan bantuan Rp1,4 juta per tahun, dengan total anggaran mencapai Rp21,168 miliar. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung kesejahteraan para pendidik yang berperan penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
Pemkab Jepara juga menghadirkan Kartu Sarjana Jepara dan Kartu Santri Jepara yang diluncurkan bersama BAZNAS Kabupaten Jepara pada 1 September 2026.
Kartu Sarjana Jepara menyasar 830 mahasiswa dari jalur prestasi, prasejahtera, dan tahfiz. Setiap penerima memperoleh bantuan Rp1,5 juta per semester dengan total anggaran Rp2,49 miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Jepara dan BAZNAS.
Sementara itu, Kartu Santri Jepara memberikan bantuan pendidikan kepada 21 santri sebesar Rp1,5 juta per semester melalui dana BAZNAS bagi penerima yang memenuhi persyaratan.
Agus menilai, berbagai program tersebut perlu dijalankan secara berkelanjutan dan tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima. Ia juga mendorong sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, pesantren, dan masyarakat untuk memastikan dukungan pendidikan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Yang terpenting, program pendidikan ini harus memberikan manfaat nyata. Kita ingin santri memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, melanjutkan pendidikan, menguasai keterampilan, dan mengambil peran dalam pembangunan daerah,” tambahnya.
Sementera itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menekankan pentingnya membekali santri dengan pengetahuan umum, keterampilan, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
Kemampuan tersebut dinilai semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja. Dengan bekal keilmuan serta karakter yang kuat, santri diharapkan mampu mengambil peran lebih luas, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun pembangunan daerah.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa
































