Batang (lingkarjateng.id) – Tol Khayangan atau jalan atas awan di lereng Gunung Prau wilayah Kecamatan Bawang Kabupaten Batang memiliki pesona yang tak bakal dilupakan. Jalan berlatar perbukitan indah ini akses menuju dataran tinggi Dieng jadi favorit para wisatawan.
Siapa sangka jika jalan meliuk nan indah tersebut sebenarnya ada dua rute yang sepintas kembar. Selama ini, publik lebih mengenal jalur barat, yaitu rute Deles, Bintoro Mulyo, hingga Sigemplong sebagai Tol Khayangan yang sudah terhubung mulus dengan betonisasi.
Lokasinya tepat berada di sisi timur, terdapat satu jalur alternatif lagi yang tak kalah strategis, namun kondisinya masih menantikan sentuhan pembangunan secara menyeluruh. Jalur inilah yang digadang-gadang bakal menjadi ‘Tol Khayangan Dua’.
“Jadi ini ada dua jalur, Mas. Yang satunya, sama-sama tembus Dieng semua. Yang satunya itu lewat timur, yang satunya lewat barat. Yang sudah tersambung, sudah cor itu,” ungkap Kepala Bapperida Batang Bagus Pambudi melalui Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Nona Yulistya Suyono, dalam keterangannya yang diterima.
Dia membeberkan bahwa rute timur masih menyisakan pekerjaan rumah sepanjang enam kilometer yang belum tersentuh penanganan permanen. Yang ini yang masih kurang 6 kilo sebetulnya, kalau dari Deles, berarti Dukuh Kluwuk sampai ke Desa Pranten sendiri itu kurangnya sekitar 6 kilometer.
“Memang pembangunannya kita bertahap. Berada di kawasan pegunungan, medan di jalur timur Pranten ini memiliki tingkat kecuraman dan keekstreman yang tak jauh berbeda dari Tol Khayangan utama. Dari Bawang menuju Sigemplong (batas Banjarnegara), jaraknya membentang sekitar 11,28 kilometer,” terangnya.
Sedangkan untuk rute dari Desa Deles hingga Rejosari memakan jarak sekitar 10 kilometer. Tak hanya jalur utama, ada rute penghubung di bagian tengah yakni rute Sigemplong menuju Ndawuan melalui SMPN 4 Bawang yang saat ini masih menyisakan garapan sejauh 400 meter.
“Mengingat tingginya curah hujan di dataran tinggi ini, spesifikasi jalannya tak bisa sembarangan. Pembangunan infrastruktur di sana wajib menggunakan konstruksi beton bertulang. Kalau di sana itu memang konstruksinya harus cor, karena kan curah hujannya tinggi, kalau aspal kan nanti enggak awet,” jelasnya.
Bagi warga lokal, keberadaan jalan beraspal halus bukan sekadar urusan estetika atau kemudahan liburan wisatawan. Jalur timur yang sebagian besar masih berupa tatanan batu makadam ini memegang peranan krusial antara hidup dan mati.
“Jika pembukaan jalan ini tuntas, warga Dukuh Pranten, Sigemplong, Bintoro Mulyo, hingga Rejosari akan memiliki kepastian akses ke fasilitas kesehatan (faskes). Keberadaan jalan yang layak diharapkan mampu menekan potensi kejadian buruk akibat terhambatnya evakuasi medis,” ungkapnya.
Pemerintah Daerah terus berupaya mengurai persoalan infrastruktur ini secara bertahap. Untuk melengkapi pengaspalan/pembetonan sepanjang 6 kilometer yang tersisa, dibutuhkan total anggaran sekitar Rp7,5 miliar. “Rencana di 2027 itu sudah kita anggarkan sekitar Rp1,5 miliar. Nanti akan bertahap harapannya nanti bisa selesai sampai Dukuh Pranten berarti,” katanya.
Dengan alokasi Rp1,5 miliar tersebut (sekitar Rp1,2 miliar hingga Rp1,5 miliar dari kalkulasi DPU), jalan sepanjang 1,2 kilometer dengan lebar 4 meter dapat diselesaikan terlebih dahulu.
“Tak berhenti di situ, Pemda juga telah mengajukan Usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) ke pemerintah pusat demi mempercepat penanganan kawasan ini. Pemda sudah mengusulkan DAK nggih ke pusat dengan anggaran 11 miliar dengan panjang 10 KM,” tandasnya.
Kini, warga Pranten dan para pengguna jalan hanya bisa berharap janji pemerataan infrastruktur ini segera terealisasi sepenuhnya agar jalur timur tak lagi dikenal sebagai jalan berliku penuh duka, melainkan bertransformasi menjadi ‘Tol Khayangan Dua’ yang menghidupkan asa dan ekonomi warga lereng gunung Prau. ***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Ady Arfian





























