Batang (lingkarjateng.id) – Keracunan massal Makanan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, korban mengalami keluhan mual, pusing dan diare. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menyiapkan 4 layanan kesehatan (yankes) untuk merawat para korban.
Diantaranya dirujuk ke sejumlah pelayanan kesehatan lainnya seperti RSUD Kalisari, RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, Puskesmas Gringsing dan puskesmas lainnya.
Wakil Bupati Batang Suyono mendatangi RSUD Kalisari Batang, Rabu malam (23/9), menjenguk dan memastikan kondisi korban yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penanganan medis.
Suyono menyatakan sudah menghubungi dinas kesehatan untuk mengambil sampel MBG, dan memeriksanya di laboratorium. “Kita tunggu bersama, sambil menunggu hasil lab. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar mengambil sampel,” kata dia saat di RSUD Kalisari Batang.
Dikatakan Suyono, para korban merasakan gejala keracunan setelah menyantap MBG yang dibagikan Selasa (22/9). Keluhan dirasakan beberapa jam setelah dikonsumsi.
“Yang anak sekolah makan jam 11.00 WIB, tapi terasanya sore, jam 01.00 (13.00 WIB) atau jam 02.00 (14.00 WIB),” ujarnya.
Ia melanjutkan, sejumlah orang tua ternyata juga menderita keluhan setelah mencicipi MBG yang dibawa pulang anak mereka. Gejala yang dirasakan seprti mual dan pusing.
Diduga Sumber Keracunan dari Telur
Suyono menjelaskan, menu MBG yang disebut-sebut menjadi dugaan awal penyebab keracunan adalah telur. Namun, dia belum bisa memastikannya sebelum hasil laboratorium keluar. “Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya tanya pusing dan mual,” katanya.
Ia berujar, 276 korban tersebut berasal dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) alias dapur MBG yang sama. Dapur itu disebut melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang, dengan total 2.650 penerima manfaat.
Mulai dari TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Sementara itu di RSUD Kalisari Batang, sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB, belasan ambulans keluar masuk rumah sakit. Hingga pukul 21.00 WIB, di RSUD Kalisari Batang, tercatat ada 20 pasien keracunan dari Bawang.
Para korban tidak hanya pelajar, namun juga orang tua murid. Suyono menyebut data korban masih dapat berubah seiring proses pendataan dan pemeriksaan di lapangan.
Menurutnya, dari informasi sementara, terdapat siswa yang mulai mengalami keluhan beberapa jam setelah mengonsumsi makanan MBG. Sementara sebagian orang tua mengalami gejala setelah menyantap makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka.
“Tadi saya tanya tiga siswa yang sudah masuk dan lainnya orang tua. Yang orang tua makan yang dibawa pulang jatah anaknya. Yang anak sekolah makan jam 11.00, tapi terasa jam 13.00 atau jam 14.00,” tuturnya.
Suyono menegaskan, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap pengawasan dan pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG untuk benar-benar menjalankan SOP, terutama dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.
“Ini bagian dari kontrol kita yang harus diefektifkan kembali. Sudah berulang kali saya sampaikan, jaga SOP benar-benar karena ini berkaitan dengan makan. Kalau ada kesalahan dalam proses memasak atau yang bersifat tidak sehat bisa menimbulkan keracunan,” pungkasnya. ***
Editor : Adi Arfian




























