Batang (lingkarjateng.id) – Korban keracunan makanan menu bergizi (MBG) silih berganti masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Bawang sejak Rabu (23/9) siang pukul 12.00 WIB hingga malam pukul 22.30 WIB.
Puluhan armada mobil ambulans membawa para korban keracunan, sebagian korban rawat jalan dan sebagian lagi dirujuk ke sejumlah pelayanan kesehatan lainnya seperti RSUD Kalisari, RSUD Limpung, RS QIM dan puskesmas lainnya.
Jumlah warga yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, hingga Rabu malam sebanyak 276 orang.
Wakil Bupati Batang Suyono langsung mendatangi RSUD Batang, Rabu malam (23/9), untuk menjenguk sejumlah warga dan siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut.
“Ini kita bersama-sama di RSUD Batang karena ada kabar dari wilayah Kecamatan Bawang SPPG menimbulkan keracunan. Dari data yang ada, korban mencapai 276 orang dan untuk yang dibawa ke RSUD Batang ada 29 orang,” ujarnya.
Pemerintah masih melakukan verifikasi terhadap sebaran korban. Suyono mengatakan, sebagian korban merupakan anak penerima manfaat. Ada pula orang tua yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka. “Orang tua memakan dari sisa anak,” ujar Suyono.

Kondisi tersebut menjadi salah satu bagian yang ditelusuri pemerintah dalam penanganan kasus. Makanan yang dikonsumsi orang tua merupakan porsi MBG yang sebelumnya dibawa pulang oleh anak penerima manfaat.
Sementara itu, korban dugaan keracunan MBG mendapatkan penanganan di sejumlah layanan kesehatan. Berdasarkan pembaruan yang disampaikan Suyono, sekitar 19 orang telah masuk ke RSUD Kalisari Batang.
Hingga kini, pemerintah masih melakukan pemantauan terhadap kondisi mereka. Dikatakan, fasilitas kesehatan di Batang juga terus dipantau untuk mengantisipasi apabila jumlah warga yang membutuhkan penanganan medis bertambah.
Apabila kapasitas rumah sakit penuh, pasien dapat diarahkan ke puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap. “Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” katanya.
Di tengah bertambahnya jumlah korban, pemerintah belum menyimpulkan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Pemeriksaan terhadap sampel makanan masih diperlukan untuk memastikan sumber masalah. ***
Editor : Adi Arfian




























