KENDAL, Lingkarjateng.id – Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal dan menyebabkan ribuan warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Hingga 17 September 2026, sebanyak 3.209 jiwa atau 1.032 kepala keluarga (KK) terdampak telah mendapat bantuan distribusi air bersih dengan total mencapai 545.000 liter.
Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, Iwan Sulistyo, mengatakan distribusi air bersih dilakukan di lima kecamatan yang terdampak kekeringan.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Ringinarum, Plantungan, Patean, Sukorejo, dan Kaliwungu Selatan. Sejumlah desa menjadi lokasi penyaluran bantuan karena masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Di Kecamatan Ringinarum, distribusi air bersih dilakukan di Desa Kedungasri. Sementara di Kecamatan Kaliwungu Selatan menyasar Desa Sidomakmur,” kata Iwan, Jumat, 18 September 2026.
Ia juga mengungkapkan bantuan air bersih diberikan kepada warga Desa Wonodadi di Kecamatan Plantungan, kemudian Kecamatan Patean mencakup Desa Sidokumpul dan Desa Sidodadi, sementara di Kecamatan Sukorejo bantuan disalurkan ke Desa Peron.
Iwan menyebut dari total bantuan yang telah disalurkan, pihaknya mendistribusikan 320.000 liter air bersih melalui 64 tangki. Bantuan tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di daerah yang terdampak kekeringan.
“Dan sekitar 225 ribu liter adalah bantuan dari Kodim 0715/Kendal, Polres, serta PMI serta lembaga dan organisasi lainnya,” ungkap Iwan.
Iwan mengatakan distribusi air bersih masih menjadi salah satu langkah penanganan yang dilakukan pemerintah untuk membantu masyarakat selama kekeringan berlangsung.
Kondisi tersebut juga membuat Pemkab Kendal tetap menetapkan status siaga, khususnya untuk menghadapi potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Status di Kendal masih siaga. Dalam bencana kekeringan dan karhutla kita menggandeng stakeholder dan CSR,” tambahnya.
Selain penanganan melalui distribusi air, BPBD Kendal mendorong masyarakat dan pemerintah desa menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.
Salah satu upaya yang disarankan yakni memperbanyak sumur resapan di sekitar sumber air ketika musim hujan.
Menurut Iwan, sumur resapan dapat membantu menjaga cadangan air tanah dengan menahan air hujan agar tidak langsung mengalir dan terbuang. Cadangan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan ketika memasuki musim kemarau.
“Untuk kekeringan diharapkan masyarakat di titik terdampak dan aparatur desa, saat musim hujan atau banyak air, membuat upaya mitigasi berupa sumur-sumur resapan di area sumber air. Gunanya untuk menambah suplai air saat hujan turun sehingga tidak terbuang sia-sia,” jelasnya.
Iwan juga mendorong pemerintah desa memanfaatkan anggaran desa untuk pembangunan sumur dalam. Selain itu, pemerintah desa diminta membangun komunikasi dengan pelaku usaha yang memiliki sumur air tanah agar dapat turut mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
“Karena setiap penggunaan air sumur bawah tanah harus menyediakan 10 persen dari debit harian untuk kepentingan sosial. Sebagai contoh yang sudah menjalankan itu adalah Desa Tambahsari. Yang lain diharapkan seperti itu,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Muslichul Basid





























