Batang (lingkarjateng.id) – Taman tematik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang menghadirkan usaha olahan UMKM warga lokal melalui Food Truk. Keberadaan usaha tersebut, semakin menambah hidup perputaran ekonomi di kawasan tersebut.
Peluang usaha warga lokal melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) LKD Kecamatan Gringsing itu disokong program CSR pengelola kawasan dengan membuka deretan food truck warna-warni sehingga menjadikan peluang usaha yang bagus.
“Geliat perputaran uang di sekitar KITB sangat sayang jika dilewatkan begitu saja oleh masyarakat lokal. Kalau kita melihat perputaran ekonomi yang ada di seputaran wilayah KITB ini kan berkembang sangat pesat,” ujar Camat Gringsing Ridho Budhi Kurniawan, Minggu (13/9).
Menurutnya, food truck dan ini juga atas diskusi pemerintah daerah setempat dengan KITB. “Kawasan yang memiliki daya tarik ini sangat disayangkan, manakala kita tidak menangkap peluang usaha,” tuturnya.
Dia menjelaskan alasan pemilihan konsep kedai bergerak ini pun tak lepas dari efisiensinya. Menurut Ridho, food truck menawarkan keleluasaan operasional bagi 15 desa yang tergabung dalam Bumdesma Gringsing.
“Kalau food truck itu kan menurut kami mobilitasnya bisa lebih fleksibel, daripada kita berada di satu stan ataupun satu tempat. Sementara ini kita berfokus di KITB ya, karena ini kan juga bagian dari salah satu unit usaha yang ada di Bumdesma,” jelasnya.
Pengembangan unit usaha ini merupakan buah kolaborasi antara pihak pengelola industri dan para kepala desa di Kecamatan Gringsing.
Sementara itu, Kepala Desa Krengseng Aprilianto menyebutkan armada saji yang disiapkan sejatinya berjumlah empat unit. Posisinya ada empat. Tidak dua tapi empat. Cuman yang dua memang belum nyampe sini, biasanya sore.
“Bahwa proyek ini bermula dari peluang kerja sama CSR yang ditawarkan manajemen kawasan kepada desa-desa sekitar, termasuk Kecamatan Gringsing dan Banyuputih. Food truck ini posisinya memang salah satu bentuk CSR dari Industri Batang (Industropolis Batang) yang kerja sama dengan Bumdesma LKD di wilayah Kecamatan Gringsing, yang dipelopori oleh Pak Camat,” terangnya.
Investasi satu unit food truck ini memakan biaya pemesanan sekitar Rp80 juta hingga Rp90 juta, ditambah aksesori penunjang sekitar Rp20 juta. Namun, nilai tersebut berbanding lurus dengan dampaknya.
Food truck ini tak sekadar menjual makanan, tetapi juga menjadi wadah pemasaran olahan UMKM warga. “Yang jualan untuk sementara posisinya yang di atas. Yang di atas warga. Kemudian juga makanan-makanan yang ada itu juga titipan-titipan dari warga. Jadi bentuk dari warga-warga yang nitip-nitip UMKM yang ada di desa-desa,” ujar dia.
Operasional food truck dirancang menyesuaikan ritme kunjungan warga, yakni mulai pukul 14.30 hingga 19.30 WIB, terutama saat akhir pekan. Respon pengunjung sejauh ini sangat positif.
“Syukur alhamdulillah, karena taman tematik ini baru dibuka, lumayan bahasanya. Cuman nggak tahu ini perkembangannya, ini baru satu minggu,” ungkapnya.
Daya tarik taman tematik yang menyuguhkan pemandangan lepas pantai ini turut diakui pengunjung. “Sudah dua kali ke sini. Memang pemandangan luar biasa, bisa melihat laut. Kalau ke sini lebih enak sore hari, tidak panas,” ucap Endah (73), warga Kauman Batang.
Keberadaan food truck pun menjadi penyempurna pengalaman wisata tipis-tipis bagi pengunjung seperti Endah. Apalagi dengan adanya food truck membantu untuk membeli jajan, tidak jauh dan harganya terjangkau.***
Jurnalis : Fahri Akbar
Editor : Adi Arfian






























