SEMARANG, Lingkarjateng.id – Luas tanam padi di Jawa Tengah pada musim kemarau 2026 mengalami penurunan sekitar 20 persen. Selain itu ada enam wilayah rawan kekeringan imbas kemarau.
Data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah wilayah yang terpantau rawan kekeringan yakni Wonogiri, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara, dan sebagian wilayah Cilacap.
Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengungkapkan bahwa imbas kemarau tahun ini mengakibatkan penurunan luas tanam padi hingga 20 persen. Penanaman padi berkurang karena masalah keterbatasan air.
“Turun sekitar 20 persen, tapi itu laporan yang angkanya masih bisa berbeda, karena penyuluh juga di lapangan, ini laporan dari Kabupaten per bulan lalu (Juli),” tegasnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya kerja sama pemerintah kabupaten, Kementerian Pertanian, penyuluh, Bank Indonesia, dan BBWS menyediakan air ke lahan pertanain untuk mempertahankan produksi padi
“Selain menjaga pasokan air, pemerintah juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui asuransi. Tahun 2026, asuransi pertanian disiapkan untuk 10.400 hektare lahan padi yang tersebar di 29 kabupaten dan Kota Semarang,” terangnya.
Untuk daerah yang sulit mendapat air, pemerintah menyiapkan sumur dalam dan sumur dangkal. Air kemudian dialirkan menggunakan pompa dan pipa menuju lahan pertanian.
Distanak Jateng memastikan kepada para petani yang mengalami gagal panen akibat serangan hama maupun kekeringan bisa mengajukan klaim namum dengan syarat kerusakan lahan mencapai 75 persen dan telah melalui pemeriksaan.
“Kalau gagalnya 75 persen, kondisinya tidak bisa diselamatkan dari luasan itu, otomatis diganti, biasanya Rp6 juta per hektare untuk mengganti kerugiannya,” jelasnya.
Meski luas tanam menurun, Distanak tetap menargetkan produksi gabah kering giling 10,5 juta ton pada 2026. Salah satu strategi yang didorong yakni meningkatkan produktivitas lahan melalui pertanian modern yakni dengan metode PMAAS.
“Sekarang dicoba dengan metode PMAAS namanya, jadi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System, itu dia model tanamnya seperti jajar legowo, tapi dia tanamnya justru lebih banyak benihnya, karena langsung tidak pakai model pembibitan dulu terus bisa dipindahkan ke lahan, sehingga menghemat wajtu dua minggu untuk persemaian, karena tanam langsung terus hasilnya (produksi padi) lebih tinggi,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Ulfa































