KENDAL, Lingkarjateng.id – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal memberikan pelatihan kepada petani cengkeh tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman tanpa ketergantungan penggunaan bahan kimia.
Kepala Bidang Perkebunan DPP Kendal, Gunadi, mengatakan pelatihan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (POPT) bagi petani cengkeh itu sekaligus untuk mendorong peningkatan kualitas produksi pertanian
Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan petani dalam mengenali sekaligus mengendalikan hama dan penyakit tanaman cengkeh dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Materi yang kami sampaikan mulai dari teknik budi daya cengkeh, pengendalian OPT, hingga praktik pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) organik dan Jadam Sulfur,” ujar Gunadi, Kamis, 27 Agustus 2026.
Petani cengkeh juga dibekali pengetahuan tentang agen pengendali hayati (APH). Dalam praktiknya, petani dikenalkan dengan pembuatan dan perbanyakan jamur baik seperti Trichoderma sp dan Beauveria bassiana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Dongkrak Hasil Panen, Petani Kopi di Kendal Dilatih Budidaya Berbasis Agroekosistem
Menurut Gunadi, penggunaan agen hayati menjadi salah satu alternatif pengendalian OPT yang perlu terus dikenalkan kepada petani. Sebab, bahan-bahan tersebut dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.
“Ini yang perlu kita sampaikan kepada petani, sehingga mereka tergerak untuk menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Pemberantasan hama penyakit secara alamiah ini memiliki keunggulan karena dapat menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.
Gunadi menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit tanaman secara alami memang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan bahan kimia. Namun, keunggulannya memiliki dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Apa yang diaplikasikan untuk tanaman cengkeh tidak memiliki efek negatif untuk manusia, tumbuhan dan hewan, terutama musuh alami hama penyakit yang ada pada tanaman cengkeh,” katanya.
Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produksi maupun produktivitas tanaman cengkeh. Karena itu, petani perlu memiliki pengetahuan mengenai berbagai metode pengendalian, termasuk pemanfaatan bakteri dan jamur yang bersifat menguntungkan.
“Pengendalian hama secara alami melalui bakteri baik dan jamur yang baik memang memerlukan waktu sedikit lebih lama, tetapi dampaknya tetap akan berpengaruh terhadap tanaman,” ungkapnya.
Dia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan petani dalam praktik budi daya di lapangan. Para peserta diharapkan memiliki bekal dan referensi yang lebih lengkap mengenai pengendalian OPT, mulai dari serangan jamur, hama hingga penyakit tanaman.
“Kami berharap para petani yang mengikuti pelatihan POPT cengkeh ini memiliki bekal yang baik dan referensi yang lengkap terkait pengendalian organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman cengkeh, sehingga budidaya cengkeh ke depan semakin bagus,” tuturnya.
Sebagai informasi, cengkeh menjadi salah satu komoditas perkebunan yang banyak digeluti masyarakat. Data tahun 2025, luas areal tanaman cengkeh di Kendal mencapai 583,60 hektare.
Dari luasan tersebut, produktivitas cengkeh tercatat mencapai 622,80 kilogram per hektare, dengan total produksi sebanyak 252.090,41 kilogram atau sekitar 252 ton bunga cengkeh kering. Sementara jumlah rumah tangga petani yang terlibat dalam usaha perkebunan cengkeh mencapai 5.596 kepala keluarga (KK).
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa































