SEMARANG, Lingkarjateng.id – Memasuki Hari Jadi ke-81, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) telah memperluas akses pendidikan bagi siswa kurang mampu melalui sejumlah program.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pendidikan merupakan salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
“Pendidikan ini merupakan investasi masa depan,” katanya.
Program Sekolah Kemitraan menjadi salah satu solusi Pemprov Jateng atas keterbatasan kapasitas sekolah negeri.
Dalam program tersebut, calon siswa dari keluarga kurang mampu kategori Desil 1 hingga 4 memperoleh pembebasan sejumlah biaya pendidikan, termasuk SPP dan iuran wajib, paket buku pelajaran serta kegiatan akademik dan ekstrakurikuler tertentu.
Dalam program bantuan biaya pendidikan, Pemprov Jateng memberikan Beasiswa Siswa Miskin (BSM) kepada 10.000 siswa dengan nilai bantuan Rp1 juta per siswa, serta 1.100 anak tidak sekolah (ATS) masing-masing penerima memperoleh bantuan Rp2 juta.
Pemprov Jateng juga menyediakan SMA Negeri Keberbakatan Olahraga (SMANKO) Jawa Tengah di Kawasan Olahraga Jatidiri, Kota Semarang, bagi siswa berbakat. Sekolah berasrama tersebut menggabungkan pendidikan formal dengan pembinaan olahraga.
Jalur peningkatan akses pendidikan juga diperluas melalui Program Beasiswa Sister Province dengan memberikan kesempatan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan di Korea Selatan. (Adv)


Jurnalis: Lingkarjateng Group Network
Editor: Rosyid






























