Salatiga (lingkarjateng.id) – Wali Kota Salatiga Robby Hernawan mengungkap strategi pengembangan Kota Salatiga menjadi giant rest area dengan memanfaatkan posisi geografis dan pembangunan exit tol Pattimura sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi baru.
Keberadaan akses tol tersebut diharapkan mampu memunculkan pusat-pusat pertumbuhan baru di kawasan utara Salatiga. Ia menyatakan, Salatiga memiliki posisi strategis karena berada di antara Solo, Semarang, dan Yogyakarta.
Kondisi tersebut menjadi peluang untuk menjadikan Salatiga sebagai tempat persinggahan sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan wisata.
“Pembangunan Exit Tol Pattimura itu tidak sekadar pembangunan infrastruktur jalan, tetapi menjadi instrumen transformasi ekonomi wilayah,” ujar Robby dalam keterangan tertulis, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Robby mengungkapkan, kawasan sekitar akses tol diarahkan berkembang menjadi pusat niaga, UMKM, perumahan, hingga destinasi wisata.
Pengembangan wilayah juga disiapkan melalui konsep Modern City di bagian utara dan Heritage City di bagian selatan.
“Potensi tersebut akan diperkuat dengan kekayaan kuliner khas Salatiga, seperti tumpang koyor, wedang ronde, dan Sate Suruh,” katanya.
Selain infrastruktur, Pemkot Salatiga juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat. Sekitar 26.000 pelaku UMKM mendapatkan pendampingan mulai dari permodalan, kurasi produk, perizinan hingga pemasaran digital.
“Salah satu produk yang disoroti adalah olahan singkong Argotelo yang disebut telah menembus pasar Australia, Singapura, dan Korea,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Angga Rosa
Editor : Redaksi
































