DEMAK, Lingkarjateng.id – Pembangunan Hybrid Sea Wall di pesisir Kabupaten Demak segera memasuki tahap pelaksanaan. Proyek yang diproyeksikan menjadi salah satu upaya pengendalian banjir rob dan abrasi itu akan diawali di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, dengan panjang konstruksi sekitar 900 meter.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinputaru) Kabupaten Demak, Naning Prih Hatiningrum, mengatakan pelaksanaan proyek percontohan tersebut diperkirakan dimulai dalam satu hingga dua bulan mendatang.
Menurutnya, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak masih berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pekerjaan Umum sebagai penanggung jawab utama program.
“Kemungkinan tahun 2026 ini, dalam satu atau dua bulan ke depan pembangunan Hybrid Sea Wall di Desa Surodadi segera dilaksanakan. Namun kami masih perlu berkomunikasi lebih lanjut dengan PUPR Provinsi selaku leading sector,” kata Naning di Demak, Minggu, 26 Juli 2026.
Ia mengungkapkan pembangunan tahap pertama difokuskan di kawasan pesisir Desa Surodadi dengan panjang mencapai 900 meter sebagai proyek awal.
“Nanti itu iya (mengawali titiknya) sepanjang 900 meter,” ujarnya.
Menurut Naning, konsep Hybrid Sea Wall mengombinasikan pembangunan infrastruktur pelindung pantai berbahan beton dengan rehabilitasi hutan mangrove. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi energi gelombang laut sekaligus menekan laju abrasi yang selama ini mengancam kawasan pesisir Demak.
Ia menjelaskan, proyek tersebut merupakan inisiasi Universitas Diponegoro (Undip), sedangkan pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah.
“Gambarannya, nanti jadi itu konstruksi dan juga dari mangrove. Jadi ada dua perpaduan, dari struktur beton melalui bis beton sama mangrove. Ini memang inisiatornya dari Undip, anggarannya dari APBD Provinsi,” jelasnya.
Naning mengatakan Pemkab Demak sendiri telah mengusulkan pembangunan Hybrid Sea Wall dengan cakupan yang lebih luas. Usulan tersebut meliputi kawasan pesisir dari Kecamatan Sayung hingga Kecamatan Wedung dengan total panjang sekitar 30 kilometer.
“Kalau untuk panjang secara keseluruhan, kita mengajukannya ya melingkari. Kalau pengajuan kita dari Kecamatan Sayung sampai Wedung itu sekitar 30 kilometer. Itu pengajuan kita. Tapi untuk yang saat ini katanya baru 900 meter. Katanya untuk tahun ini,” ungkapnya.
Berdasarkan estimasi awal, pembangunan Hybrid Sea Wall sepanjang sekitar 8 kilometer di wilayah Kecamatan Sayung membutuhkan anggaran sekitar Rp250 miliar. Adapun pengembangan proyek hingga Kecamatan Wedung akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Yang Hybrid Sea Wall itu di Sayung sekitar 8 km itu sekitar Rp250-an miliar. Tahun ini baru 900 meter. Perencanaan sampai ke Wedung, itu kan anggaran provinsi. Jadi dari provinsi meminta untuk menghitung sampai Sayung dulu, yang sampai Wedung belum. Iya bertahap,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid






























