Grobogan (lingkarjateng.id) – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mulya Sejati di Desa Jatipecaron, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, sukses meraup jutaan rupiah dari sektor peternakan bebek petelur.
Namun, di tengah hasil manis tersebut, pihak pengelola masih dihadapkan pada tantangan pelik berupa lonjakan harga pakan yang terus merangkak naik setiap bulannya.
Pengelola BUMDes Mulya Sejati Muhamad Supangat mengatakan pihaknya memelihara sebanyak 650 ekor bebek secara intensif. Dari total populasi, sekitar 420 ekor bebek berada dalam kondisi produktif dan mampu menghasilkan ratusan butir telur segar setiap harinya.
“Ada kurang lebih 650 ekor, yang produktif tiap hari ada 420,” ujarnya, Jum’at (18/9).
Ia juga mengatakan pemasaran hasil panen tergolong lancar tanpa kendala berarti. Para pengepul atau bakul mendatangi langsung area kandang untuk membeli telur-telur segar tersebut.
Harga jual di tingkat peternak dipatok berkisar antara Rp1.800 hingga Rp1.900 per butir. “Untuk penjualan alhamdulillah ada bakul yang datang sendiri untuk mengambil, harganya sekitar 1.800 hingga 1.900 per butir,” ujarnya.
Dari produktivitas tersebut, BUMDes Mulya Sejati mampu mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp2 juta per bulan setelah dikurangi biaya operasional, termasuk pembelian pakan dan upah pekerja kandang.
“Masih bisa untung sekitar 2 jutaan per bulan dengan produktivitas segitu,” kata Supangat.
Kendati demikian, kesuksesan ini dibayangi oleh keluhan pengelola terkait harga pakan bebek yang terus naik secara berkala. Kenaikan harga pakan yang mencapai Rp5.000 per sak setiap bulannya dinilai cukup menggerus margin keuntungan bersih peternak.
Supangat, mengungkapkan bahwa tingginya biaya operasional ini menjadi beban utama yang dirasakan para pekerja kandang saat ini. “yang kita keluhkan itu biaya pakan mahal, sudah beberapa bulan saja sudah naik dua kali,” ungkapnya.
Pihak pengelola bersama para peternak berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak produsen. Langkah itu dinilai mendesak agar usaha kerakyatan ini dapat terus bertahan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Desa Jatipecaron. ***
Jurnalis : Ahmad Abror
Editor : Adi Arfian































