Semarang (lingkarjateng.id) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang memberikan perhatian khusus bagi anak-anak inklusi atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam memperingati Hari Anak (HAN) Tahun 2026.
Melalui momentum tersebut, Pemkab Semarang menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, bebas dari diskriminasi, serta meminimalisir tindakan kekerasan maupun perundungan (bullying).
“Tema kegiatan tahun ini berfokus pada ruang kebersamaan tanpa membeda-bedakan latar belakang maupun kondisi fisik anak,” kata Kepala DP3AKB Kabupaten Semarang, Dewanto Leksono Widagdo, saat peringatan HAN 2026 di pendopo bupati, Kamis (23/7/2026)
“Bagaimana kita bisa bermain bersama dengan anak-anak inklusi, anak-anak yang “istimewa” ini. Sehingga tidak ada lagi pembeda di mana pun mereka berada, dan segala kebutuhan yang ada,” imbuhnya.
Dewanto berharap upaya itu bisa sejalan dengan harapan yang ditekankan pada pendidikan nasional di mana setiap anak itu memiliki hak yang sama. Sebagai bentuk keseriusan, Bupati Semarang mendorong adanya dukungan anggaran daerah khusus bagi anak-anak inklusi yang direncanakan terealisasi pada tahun anggaran 2027.
Disisi lain, pilar penguatan datang dari lembaga sosial seperti Baznas serta jajaran Disdikbudpora Kabupaten Semarang. Sedangkan DP3AKB sendiri memfokuskan perannya pada pendampingan dan pencegahan kekerasan.
“Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung agar anak-anak inklusi dapat tumbuh, berinteraksi (srawung, red), dan bahagia selayaknya anak-anak lainnya,” jelasnya.
Beasiswa dan Anggaran Khusus Bagi 1.682 Anak Inklusi
Guna mendukung penguatan ekosistem inklusi, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengumumkan rencana pemberian bantuan beasiswa bagi ribuan anak berkebutuhan khusus maupun disabilitas pada tahun 2027 mendatang.
Pemkab Semarang telah mendata anak-anak inklusi dari jenjang TK, SD, MI, SMP, hingga MTs se-Kabupaten Semarang ini total berjumlah ada 1.682 anak. Dalam pelaksanaannya secara gotong royong melalui dukungan berbagai pihak dan tidak mengandalkan APBD semata.
“Anggaran ini tidak dari APBD, tetapi gotong royong dari perusahaan-perusahaan di Kabupaten Semarang, Baznas, UPZ, hingga Bank Jateng,” kata Ngesti Nugraha.
“Kita rencanakan di tahun 2027 nanti ada bantuan beasiswa untuk mereka, yang jumlahnya total ada sekitar 1.682 anak yang sumber pendanaannya dari banyak sumber gotong royong,” imbuhnya.
Untuk menunjang sistem pendidikan inklusif di mana anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama anak-anak lainnya, Pemkab Semarang menaruh perhatian pada kesiapan tenaga pendidik dan kondisi fisik sekolah.
“Sebelum infrastruktur, juga kaitannya dengan guru-gurunya. Gurunya harus sabar, ikhlas untuk mengabdi pada anak kita. Lalu kaitannya dengan infrastruktur, secara bertahap sekolah-sekolah yang rusak atau bangunannya sudah lama kita cek,” katanya.
“Harapan kita tidak ada lagi sekolah yang roboh di Kabupaten Semarang kecuali karena bencana,” pungkasnya. ***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Redaksi






























