Semarang (lingkarjateng.id) – Ada yang unik di Kabupaten Semarang, di mana saat ini momentum pernikahan di wilayah setempat kini tidak hanya menjadi awal terbentuknya sebuah keluarga baru saja, namun juga menjadi awal lahirnya kepedulian pada kelestarian lingkungan.
Melalui program Pohon Cinta, setiap calon pengantin diajak menanam sedikitnya satu pohon sebagai simbol sebuah cinta, tanggung jawab, sekaligus kontribusi nyata dalam menjaga bumi.
Gerakan itu resmi diluncurkan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang bertajuk “Menanam Hati, Merajut Bumi Sedekah Oksigen untuk Semesta dan Dekapan Kasih bagi Jiwa yang Rentan” pada Selasa (14/7).
Kepala Kemenag Kabupaten Semarang, Ta’yinul Biri Bagus Nugroho mengatakan bahwa program Pohon Cinta tersebut telah berjalan hampir satu tahun. Program ini diterapkan sebagai uji coba untuk melihat respons masyarakat sebelum resmi diluncurkan secara luas nantinya.
“Gagasan ini lahir dari diskusi bersama dengan Bapak Bupati Semarang yang kemudian dikembangkan sebagai bentuk pembaruan dari program lama bernama CIKAL, dimana pasangan pengantin ini membawa bibit kelapa ke KUA,” ujarnya.
Bagus menambahkan, Pohon Cinta bukan sekadar ajakan menanam pohon saja, melainkan gerakan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan atau ekoteologi. Salah satunya yaitu program prioritas Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar.
“Di mana beliau menegaskan bahwa ajaran agama itu mengajarkan manusia tidak hanya menjaga hubungan dengan Tuhan, tetapi juga menjaga alam sebagai ciptaan-Nya. Tidak disebut orang beriman ketika tidak mencintai alam,” ungkapnya.
“Rasulullah SAW juga mengajarkan, sekalipun kiamat akan datang sementara di tangan kita masih ada bibit tanaman, maka tanamlah. Artinya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah,” terangnya kembali.
Pada program tersebut, para calon pengantin diberikan keleluasaan untuk menentukan lokasi penanaman pohon. Bibit pohon produktif itu dibawa ke KUA untuk didistribusikan ke masyarakat, ditanam sendiri di rumah, maupun di tanam di lokasi lain yang dianggap tepat.
“Dalam proses penanaman harus didokumentasikan dan dilaporkan kepada KUA sebagai bentuk komitmen terhadap keberlangsungan program,” sambungnya.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha melalui Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah mengapresiasi dengan lahirnya gerakan tersebut. Menurutnya, di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, berkurangnya ruang hijau, hingga potensi bencana hidrometeorologi, menjaga lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.
“Melalui Pohon Cinta ini seluruh masyarakat di Kabupaten Semarang kami ajak untuk memahami bahwa nilai-nilai agama juga mengandung pesan kuat tentang menjaga alam sebagai bagian dari implementasi keimanan,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang calon pengantin asal Dusun Kalisari, Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Mujib Ikhtirom, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Bersama pasangannya, ia menanam bibit alpukat sebagai bagian dari komitmen memulai kehidupan rumah tangga, di mana menurutnya, gerakan Pohon Cinta memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya pohon yang kami tanam bisa tumbuh, menghasilkan, dan bermanfaat bagi banyak orang,” tukasnya. ***
Jurnalis : Hesty Imaniar
Editor : Redaksi




























