Semarang (lingkarjateng.id) – Proses pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional memasuki tahapan verifikasi. Saat ini, Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial RI tengah melakukan verifikasi lapangan di Kota Semarang.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencocokkan naskah akademik dengan bukti-bukti sejarah yang masih tersimpan. Verifikasi tersebut nantinya menjadi salah satu tahapan penentu dalam proses penetapan gelar Pahlawan Nasional.
“Tim dari Kementerian Sosial datang ke Semarang memverifikasi naskah akademik yang sebelumnya dibahas di Jakarta. Dengan melihat langsung bukti-bukti sejarah sebagai dasar pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi KH Sholeh Darat,” kata Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom, Selasa (14/7).
Tim verifikasi sebelumnya disambut Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Selanjutnya, mereka mengunjungi sejumlah lokasi yang berkaitan dengan perjalanan hidup KH Sholeh Darat, mulai dari makam di Bergota.
Kemudian kawasan Kampung Darat yang dahulu menjadi pusat dakwah dan pesantren, hingga Walisongo Center UIN Walisongo Semarang yang menyimpan manuskrip peninggalannya.
Menurut Anasom, tim mencocokkan berbagai informasi dalam naskah akademik dengan kondisi di lapangan, termasuk keberadaan situs sejarah, manuskrip, dan peninggalan lain yang menjadi bukti kiprah KH Sholeh Darat.
“Mereka melihat langsung situs-situs sejarah, manuskrip, serta peninggalan yang masih ada. Semua itu menjadi bagian dari pembuktian bahwa jasa KH Sholeh Darat memiliki dasar sejarah yang kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu aspek yang menjadi perhatian TP2GP adalah besarnya pengaruh pemikiran KH Sholeh Darat terhadap tumbuhnya kesadaran kebangsaan pada masa penjajahan.
Anasom mencontohkan isi Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah lil ‘Awam yang mengingatkan masyarakat agar tidak meniru budaya penjajah.

“Beliau mengingatkan masyarakat agar tidak meniru cara berpakaian kolonial, seperti mengenakan jas, dasi, maupun pakaian ala Belanda. Substansi ajaran itu bukan soal busana, tetapi membangun sikap agar rakyat tidak kehilangan jati diri di hadapan penjajah,” jelasnya.
Menurutnya, pemikiran tersebut menjadi bagian dari semangat anti-kolonial yang kemudian memengaruhi generasi berikutnya.
“Beliau menanamkan kesadaran bahwa penjajahan harus dilawan. Semangat itu kemudian berkembang melalui murid-murid beliau hingga menjadi bagian dari gerakan kebangsaan. Karena itu kami memandang KH Sholeh Darat sebagai salah satu perintis nasionalisme Indonesia,” tuturnya.
Anasom menambahkan, pengaruh KH Sholeh Darat juga terlihat dari kiprah para muridnya, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan KH Asnawi Kudus yang kemudian menjadi tokoh besar dalam perkembangan Islam dan perjuangan bangsa.
“Pengaruh beliau tidak hanya dirasakan di Semarang. Pemikiran dan pendidikan yang beliau bangun diteruskan oleh para murid yang kemudian menjadi tokoh nasional. Itulah yang sedang kami kuatkan dalam proses pengusulan ini,” katanya.
Meski telah memasuki tahap verifikasi pusat, Anasom menyebut masih ada sejumlah masukan yang perlu dilengkapi, di antaranya memperkuat referensi mengenai pengaruh KH Sholeh Darat dalam literatur nasional serta dokumentasi sejarah yang autentik.
“Ada beberapa masukan dari TP2GP yang sedang kami lengkapi. Kami juga masih mencari dokumentasi sejarah, termasuk foto-foto autentik dan referensi lain yang menunjukkan besarnya pengaruh beliau terhadap perkembangan pemikiran Islam dan nasionalisme di Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap seluruh tahapan dapat berjalan lancar hingga pemerintah menetapkan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional.
“Kami memohon doa dari seluruh masyarakat agar proses ini berjalan lancar. Jika masih ada masyarakat yang memiliki manuskrip, dokumen, atau informasi sejarah tentang KH Sholeh Darat, kami sangat berharap dapat ikut melengkapinya,” tuturnya. ***
Jurnalis : Syahril Muadz
Editor : Redaksi




























