KUDUS, Lingkarjateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus memetakan sejumlah titik rawan bencana di kawasan Perbukitan Patiayam sebagai langkah mitigasi menghadapi musim hujan. Kawasan tersebut dinilai berpotensi mengalami tanah longsor maupun banjir bandang akibat kondisi kontur tanah yang mudah tergerus air.
Hasil pemetaan menunjukkan terdapat beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Kudus yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap longsor. Sementara potensi banjir bandang berada di wilayah Kabupaten Pati yang masih berada dalam kawasan Perbukitan Patiayam.
Sekretaris BPBD Kabupaten Kudus, Syarif Hidayah, mengatakan pemetaan dilakukan untuk menentukan upaya penanganan yang paling efektif dalam mengurangi risiko bencana.
“Ada spot-spot yang rawan terjadi longsor. Untuk wilayah Kabupaten Kudus yakni di Desa Gondoharum dan Desa Terban, Kecamatan Jekulo itu rawan longsor. Sedangkan wilayah yang rawan terjadi banjir bandang ada di Kabupaten Pati, khususnya di Desa Sokobubuk dan Soko Kulon,” katanya, Kamis, 9 Juli 2026.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, BPBD Kudus berencana menggandeng berbagai pihak untuk melaksanakan rehabilitasi kawasan Perbukitan Patiayam. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat struktur tanah sekaligus mengurangi potensi terjadinya longsor.
“Sebenarnya perbukitan Patiayam yang rawan longsor itu masuk kawasan rehabilitasi hutan produksi BKPH Muria seluas sekitar 122,5 hektare yang mencakup Desa Gondoharum dan Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Kawasan paling rawan berada di petak 40, 41, dan 42,” ucapnya.
Selain rehabilitasi kawasan hutan, BPBD juga akan mendukung upaya pemulihan lahan agar ancaman bencana tidak membahayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perbukitan maupun pengguna jalan.
“Kalau terjadi longsor itu bisa membahayakan masyarakat karena jarak titik rawan longsor ke Jalan Raya hanya sekitar 10 kilometer,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, BPBD Kudus menyiapkan program penanaman 1.000 bibit pohon yang terdiri atas tanaman tegakan dan tanaman keras untuk meningkatkan daya ikat tanah.
“Kami juga akan bekerjasama dengan kelompok tani hutan untuk melakukan rehabilitasi dengan tanaman keras dan tanaman produktif. Contohnya seperti tanaman jati, alpukat, dan sirsak,” pungkasnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus S.
Editor: Rosyid






























