KENDAL, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kabupaten Kendal melalui Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disdagkop UKM) melakukan berbagai upaya pendampingan agar UMKM tetap bertahan di tengah nilai mata uang rupiah melemah.
Kepala Disdagkop UKM Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo, menjelaskan dampak kenaikan dolar lebih dirasakan oleh UMKM yang menggunakan bahan baku impor. Sementara produk yang mengandalkan bahan baku lokal relatif masih aman dan memiliki daya beli yang cukup baik di masyarakat.
Untuk membantu UMKM menghadapi tantangan tersebut, Disdagkop UKM Kendal terus memperkuat program pendampingan mulai dari legalitas usaha, peningkatan kualitas produk hingga perluasan akses pemasaran.
“Salah satunya melalui kerja sama dengan Alfamart. Saat ini ada sekitar 50 produk UMKM Kendal yang telah melalui proses kurasi dan berpeluang masuk ke jaringan ritel modern,” jelasnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Selain itu, memberikan pelatihan digital marketing agar pelaku UMKM mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan memperluas pasar secara online.
“Kami bekerja sama dengan berbagai platform seperti Shopee dan TikTok untuk memberikan pelatihan pemasaran digital,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Disdagkop UKM Kendal, Lytria Wandwiasti menambahkan pihaknya juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak seperti retail modern, hotel hingga gerai-gerai UMKM untuk membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
“Kami terus melakukan pendampingan dan pengawasan kepada para pelaku UMKM. Saat ini jumlah UMKM di Kabupaten Kendal mencapai sekitar 39 ribu pelaku usaha,” ungkapnya. (adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Sekar





























