Rembang (lingkarjateng.id) – Para nelayan di Pelabuhan Perikanan Tasikagung, Kabupaten Rembang, tampak lesu dan mengurangi aktivitas. Ratusan kapal tersandar di pelabuhan, sementara para anak buah kapal (ABK) memilih memperbaiki kapal dan alat tangkap dibanding melaut imbas harga solar meroket.
Seorang juru mudi kapal asal Desa Pasarbanggi, Suwartono mengatakan sebagian besar kapal di Tasikagung berukuran di atas 30 Gross Ton (GT), sehingga tidak lagi bisa menggunakan solar subsidi.
“Kapal-kapal di sini kebanyakan 30 GT ke atas. Kalau 30 GT ke bawah boleh pakai solar subsidi. Di atasnya sudah tidak boleh, harus pakai solar industri. Sekarang ini di Tasikagung ada sekitar 600-an kapal mogok melaut,” ujar Suwartono kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).
Dijelaskan, dirinya bisa memperoleh bagi hasil Rp 5 juta hingga Rp 8 juta dalam sekali perjalanan. “Ini semenjak kenaikan solar belum berangkat lagi,” katanya.
Menurutnya, harga solar industri sempat melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Saat bulan puasa, harga solar masih sekitar Rp 10.500 per liter, lalu naik menjadi Rp 18.600 kemudian turun namun belum kembali ke harga sebelumnya.
“Sekarang sekitar Rp 14.500 per liter. Kapal yang saya pakai ini 62 GT, jadi harus pakai solar industri,” jelasnya.
Meski banyak kapal tidak melaut, Suwartono menyebut harga ikan saat ini justru mengalami kenaikan karena stok di pasaran menipis. “Kalau ikannya jarang harganya bagus. Tapi nanti kalau sudah banyak ya turun lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan mayoritas kapal dari Tasikagung biasanya melaut ke perairan Bawean dan Masalembu. Untuk sekali perjalanan pulang-pergi, kapal yang digunakannya membutuhkan sekitar 9 ribu liter solar.
Hal senada dikatakan Mad Ikhsan, motoris kapal asal Desa Tritunggal. Mad Ikhsan mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat kenaikan harga solar industri.
“Pendapatan biasanya Rp 3 juta sekali berangkat. Hampir sebulan ini belum melaut lagi gara-gara harga solar naik. Sekarang ya cuma memperbaiki kapal-kapal saja,” kata dia.
Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Nelayan Jaring Tarik Berkantong (JTB) Bhaita Adhiguna Rembang, Maksum mengatakan masih ada sebagian nelayan yang tetap melaut meski jumlahnya menurun drastis.
“Sekitar 40 persen masih melaut, 60 persen memilih libur dulu. Kita masih menunggu keputusan pemerintah terkait harga solar khusus nelayan,” ujar Maksum.
Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian ESDM terkait kebijakan tersebut.
Di sisi lain, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang menyebut kondisi nelayan mulai berangsur membaik setelah adanya pasokan BBM non subsidi dengan harga lebih rendah.
Dihubungi terpisah, Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante mengatakan kapal-kapal JTB di Tasikagung mulai kembali melaut karena mendapat suplai BBM dari PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp 14.700 per liter.
“Nelayan yang memakai BBM non subsidi sekarang sudah terfasilitasi oleh supplier PT Indah Raya Santosa dengan harga Rp 14.700 per liter. Pantauan kami, kapal-kapal sudah mulai ada yang berangkat melaut,” kata Nurida.
Menurutnya, harga itu masih lebih terjangkau dibanding sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 18 ribu hingga Rp 23 ribu per liter. “Meskipun tetap ada penambahan biaya operasional, tapi ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya saat harga terus naik,” pungkasnya.***
Editor : Redaksi
































