Kudus (lingkarjateng.id) – Program mudik gratis yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kudus menjelang Idulfitri 1447 Hijriah mendapat sambutan antusias dari para perantau.
Namun di balik tingginya minat tersebut, muncul harapan baru dari masyarakat, yakni penyediaan fasilitas arus balik gratis yang dinilai sama pentingnya dengan keberangkatan mudik.
Sebanyak 14 armada bus diberangkatkan tahun ini untuk mengangkut warga Kudus dari Jakarta menuju kampung halaman.
Program ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga sektor swasta.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa dukungan lintas sektor menjadi kunci sukses terselenggaranya program tersebut.
“Ini capaian luar biasa karena dukungan dari berbagai pihak, baik dari komunitas masyarakat, Baznas, perusahaan swasta, hingga pemerintah daerah dan provinsi,” ujarnya di Pendopo Kudus pada Senin (16/7) malam.
Kendati demikian, Sam’ani mengakui bahwa kebutuhan masyarakat tidak hanya berhenti pada arus mudik. Banyak pemudik yang berharap adanya fasilitas serupa untuk perjalanan kembali ke kota perantauan setelah Lebaran.
Menurut Bupati, usulan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah. Namun, penyediaan armada arus balik dinilai memiliki tantangan tersendiri karena waktu kepulangan pemudik tidak seragam.
“Kalau arus balik ini tidak seperti mudik. Kepulangannya tidak bersamaan, ada yang seminggu, dua minggu, bahkan lebih. Jadi harus dihitung betul kebutuhannya,” jelasnya.
Pemkab Kudus, lanjutnya, akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengkaji kemungkinan penyediaan fasilitas arus balik gratis, termasuk menghitung jumlah armada yang dibutuhkan serta potensi dukungan dari pihak sponsor.
Sementara itu, salah satu peserta mudik gratis, Muhammad Soleh (41), mengaku program tersebut sangat membantu dirinya dan rombongan. Ia berharap ke depan layanan tidak hanya tersedia saat keberangkatan, tetapi juga saat kembali ke Jakarta.
“Kalau bisa ada juga untuk baliknya, karena sangat membantu. Apalagi bagi kami yang berangkat rombongan,” katanya.
Soleh yang berasal dari Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, tersebut mengaku baru pertama kali mengikuti program mudik gratis.
Ia berencana menghabiskan waktu sekitar dua minggu di kampung halaman sebelum kembali bekerja. ***
Jurnalis : Fahtur Rohman
Editor : Fian




























