PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Masyarakat pesisir Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan mengaku resah dengan dugaan adanya penebangan liar hutan mangrove di wilayah pesisir.
Salah seorang warga pesisir Wonokerto, Dodi, mengaku menemukan tumpukan kayu yang diduga berasal dari hasil penebangan mangrove. Berdasarkan pengamatannya, volume kayu tersebut diperkirakan mencapai sekitar 10 meter kubik.
“Saya sangat prihatin mendengar kabar bahwasanya ada penebangan mangrove secara ilegal. Kemarin sempat saya cek, memang di sini ada tumpukan kayu tebangan mangrove. Saya ukur kurang lebih sekitar ada 10 kubik tebangan mangrove,” ujarnya saat ditemui, Rabu, 5 Agustus 2026 sore.
Menurut Dodi, dirinya belum mengetahui secara pasti lokasi penebangan tersebut. Namun, ia menduga aktivitas itu terjadi di kawasan sempadan sungai yang berada di sekitar pesisir Wonokerto karena masih banyak ditumbuhi mangrove.
Ia juga mengaku belum dapat memastikan apakah pohon yang ditebang merupakan mangrove yang sudah tua, roboh, atau justru masih dalam kondisi hidup dan tumbuh dengan baik.
Dodi berharap pemerintah daerah, instansi terkait, serta DPRD memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, diperlukan aturan disertai pengawasan yang lebih kuat agar keberadaan hutan mangrove tetap terjaga.
“Kalau dibiarkan, khawatirnya nanti pesisir ini semakin cepat mengalami abrasi karena tidak adanya penghalang ataupun penahan sementara. Padahal mangrove ini sangat dibutuhkan, baik untuk menahan abrasi maupun untuk pengurangan karbon,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima warga, pelaku penebangan diduga dilakukan oleh perorangan. Kayu hasil tebangan tersebut juga diduga dijual kepada penampung untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Namun, informasi tersebut masih sebatas dugaan dari masyarakat dan belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang.
Sebagai bentuk kepedulian, warga berencana menggelar pertemuan informal pada malam Jumat untuk membahas langkah-langkah yang akan dilakukan terkait dugaan penebangan mangrove tersebut.
Selain meminta penindakan terhadap pelaku, Dodi juga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada program penanaman mangrove, tapi turut memastikan keberlanjutan melalui perawatan dan pengamanan kawasan.
“Kalau bisa juga, bukan hanya memberikan program penanaman, tapi dari dinas juga harus ada program perawatan dan penjagaannya. Karena selama ini kami bersama teman-teman kelompok melakukan penanaman, tapi setelah penanaman selesai tidak ada tindak lanjut, baik dari segi perawatan maupun penjagaannya,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Sekar

































