SEMARANG, Lingkarjateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana menggunakan teknologi paku bumi untuk menangani temuan sesar aktif di wilayah setempat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan bahwa pihaknya turut menyoroti penemuan sesar di Ibu Kota Jawa Tengah.
Menurutnya, temuan tersebut harus segera ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan dampak besar terhadap infrastruktur dan penataan kota.
Agustina pun berencana untuk berkoordinasi dengan pakar ahli geologi dan teknik sipil untuk menangani sesar aktif tersebut.
“Jika dibiarkan, pergeseran tanah bisa terus terjadi. Karena itu, ada teknologi paku bumi mungkin bisa menjadi solusi. Saya memang bukan ahli teknik, saya lulusan sastra, tetapi teknologi ini sudah terbukti di lapangan, dan bisa dicoba” ujarnya pada Kamis, 21 Agustus 2025.
Ia menambahkan bahwa teknologi paku bumi sebelumnya telah diterapkan di kawasan Lapangan Golf Gombel, Semarang.
Meski wilayah tersebut tergolong rawan pergeseran tanah, kondisi kawasan itu tetap stabil setelah penggunaan teknologi tersebut.
“Lapangan Golf Gombel dulunya berada di atas patahan, tetapi setelah diterapkan teknologi paku bumi, kawasan itu menjadi stabil dan tidak mengalami kerusakan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut efektif,” jelasnya.
Menurut Agustina, penerapan teknologi tersebut akan melibatkan investor agar pembiayaan tidak sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Ia juga mengungkapkan bahwa sesar aktif di Semarang sebelumnya sudah ada di beberapa wilayah lain seperti Gunungpati, Gedawang, dan yang terbaru area Taman Makam Pahlawan (TMP).
“Di TMP Pahlawan, yang terletak di pusat kota itu katanya ada. Ini perlu menjadi perhatian serius karena gangguan pada struktur geologi bisa berdampak langsung pada penataan ruang kota,” ujarnya.
Selain sesar, ia juga menyoroti penurunan muka tanah yang terjadi akibat penggunaan sumur air bawah tanah (ABT). Menurutnya, eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat memperparah kondisi geologi kota.
“Setiap tahun, permukaan tanah kita turun beberapa sentimeter. Jadi, selain sesar, penggunaan sumur dalam juga harus dikendalikan. Jika tidak, risikonya akan semakin besar,” ujarnya.
Agustina memastikan bahwa Pemkot Semarang tidak akan gegabah dalam menangani persoalan ini.
Pihaknya akan menggandeng para ahli geologi dan teknik sipil untuk memastikan penanganan yang dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami akan mengundang para ahli untuk memeriksa kondisi sesar dan retakan ini. Karena ini menyangkut struktur bawah tanah, tidak semua orang bisa memahaminya. Hanya para ahli yang dapat memberikan solusi yang tepat,” tuturnya.
Ia menambahkan, temuan sesar aktif harus menjadi peringatan dini bagi Kota Semarang agar lebih memperhatikan kondisi geologi wilayahnya.
“Ini adalah tanda bahaya. Artinya, kita tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama. Kita harus lebih kreatif dan bekerja sama, karena masalah ini tidak bisa diselesaikan sendirian,” pungkasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid































