KENDAL, Lingkarjateng.id – Sebanyak 80 wirausaha muda mengikuti Sekolah Bisnis Kendal Batch #2 pada 15 dan 16 September 2026 di Agrowisata Tirtoarum Baru.
Sekolah bisnis diselenggarakan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal dalam pengembangan kewirausahaan pemuda sekaligus menjadi wadah pembinaan, pelatihan serta pendampingan yang terstruktur.
Kepala Bidang Kepemudaan Disporapar Kendal, Retno Kurniawati, menjelaskan Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Sekolah Mahir Bisnis Kewirausahaan Pemuda (Semanis Kamu).
“Sekolah Bisnis Kendal ini merupakan rangkaian dari program peningkatan kapasitas daya saing pemuda melalui program Semanis Kamu dengan pengembangan kewirausahaan pemuda,” jelas Retno.
Retno mengatakan sekolah bisnis juga menjadi upaya membekali generasi dengan kompetensi bisnis yang komperhensif, adaptif terhadap teknologi digital serta berorientasi pada kemandirian finasial dan pertumbuhan jangka panjang.
“Ini tahap kedua. Sebelumnya ada Sekolah Bisnis Kendal #1 dan juga workshop kewirausahaan. Harapannya teman-teman wirausaha muda dapat mengikuti setiap tahapan proses pendampingan kewirausahaan, sehingga nantinya mereka benar-benar siap ketika terjun dalam dunia kewirausahaan,” pesannya.
Dalam sekolah bisnis, Disporapar tidak hanya memberikan pengetahuan bisnis tetapi juga diarahkan pada pendampingan akses permodalan maupun bantuan kewirausahaan.
“Selain pelatihan, ada juga pendampingan ke arah permodalan ataupun bantuan wirausaha. Selama ini kita juga bekerja sama dengan Rumah Zakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Disporapar Kendal Mardi Edi Susilo menambahkan bahwa SBK Batch #2 mengambil tema literasi keuangan karena dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah usaha.
“Literasi keuangan ini sangat penting karena kadang-kadang mereka itu merasa tidak berdaya kalau merintis bisnis tetapi tidak punya modal. Sehingga saat ini kita mengundang narasumber dengan latarbelakang pengelola keuangan untuk memberikan pelatihan dan pemahaman kepada peserta,” ungkapnya.
Edukasi literasi keuangan dipandang karena masih banyak pelaku usaha yang belum mampu mengelola keuangan secara tepat, belum membedakan uang usaha dengan uang pribadi, belum
melakukan pencatatan keuangan secara tertib, belum memahami risiko usaha, maupun belum memiliki perencanaan keuangan yang matang.
“Literasi keuangan menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan usaha. Dengan kemampuan mengelola keuangan, seorang wirausaha dapat mengetahui kondisi usahanya secara nyata, menghitung keuntungan, mengendalikan pengeluaran, merencanakan pengembangan usaha, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan data dan perhitungan yang tepat,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan SBK #2 , peserta dibagi menjadi dua kelas, yakni Kelas A dan Kelas B. Kelas A diperuntukkan bagi wirausaha muda yang sedang merintis usaha. Materi yang diberikan meliputi pengembangan ide bisnis, pemasaran, digital marketing, penyusunan action plan hingga pembuatan rencana bisnis.
Sedangkan Kelas B diperuntukkan bagi wirausaha muda yang sebelumnya telah mengikuti Sekolah Bisnis. Mereka akan mendapatkan pembelajaran lebih mendalam mengenai manajemen keuangan, arus kas, realisasi HPP (Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan), rencana anggaran dan permodalan, serta evaluasi pertumbuhan usaha masing-masing.
“Harapannya, mereka dapat mengenali kesulitan yang dihadapi sekaligus menemukan solusi keuangan bisnis yang tepat dan menentukan keputusan yang harus diambil,” terang Mardi.
Ia berharap kegiatan SBK Batch #2 tidak sekadar menjadi pelatihan bagi para peserta tetapi menjadi momentum untuk mengubah pola pikir dan cara kerja wirausaha muda dalam menjalankan serta mengembangkan bisnisnya. (adv)
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa





























