SALATIGA, Lingkarjateng.id – Ketua DPRD Kota Salatiga Dance Ishak Palit menegaskan pembangunan Kota Salatiga tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Menurutnya, pelestarian budaya, penguatan karakter masyarakat dan nilai-nilai toleransi harus menjadi fondasi utama agar Salatiga tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus modernisasi.
Dance menyatakan bahwa Salatiga memiliki identitas yang kuat sebagai kota pendidikan sekaligus kota yang menjunjung tinggi keberagaman. Masyarakat dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya hidup berdampingan secara harmonis sehingga menjadikan Salatiga sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
“Salatiga sejatinya adalah miniatur Indonesia. Nilai toleransi, gotong royong, dan kebersamaan harus terus kita jaga sebagai modal utama pembangunan,” kata Dance saat memimpin Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Salatiga dalam rangka Hari Jadi ke-1276 Kota Salatiga yang digelar di Alun-alun Pancasila, Jumat, 24 Juli 2026.
Dance mengatakan, Hari Jadi Salatiga bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengenang perjalanan sejarah kota sekaligus memperkuat komitmen membangun masa depan yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya.
“Di hari yang bersejarah ini menjadi momen penting bagi kita untuk mengenang perjalanan panjang kota kita, merenungkan pencapaian, serta menatap masa depan dengan semangat terus membangun,” ujarnya.
Dance mengingatka bahwa pembangunan daerah tidak cukup diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun.
“Jangan hanya melihat pembangunan dari jalan yang mulus atau gedung yang megah. Pembangunan sejati adalah pembangunan manusia, karakter, dan budayanya,” tegasnya.
Ia menilai derasnya modernisasi dan digitalisasi membawa tantangan baru bagi generasi muda. Karena itu, keberadaan Majelis Adat Tradisi (MATRA) dinilai sangat penting sebagai benteng pelestarian budaya lokal.
Pihaknya berharap budaya tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari kebijakan pembangunan daerah, mulai dari pendidikan karakter, ekonomi kreatif, pariwisata, hingga pelayanan publik yang berakar pada nilai-nilai lokal.
“DPRD Kota Salatiga siap membuka ruang kolaborasi dengan MATRA dan seluruh elemen masyarakat untuk melahirkan kebijakan yang berwawasan kebudayaan. Budaya harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dance juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga warisan sejarah Kota Salatiga, mulai dari Prasasti Plumpungan sebagai dasar penetapan Hari Jadi Salatiga hingga berbagai situs bersejarah yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Saya mengingatkan besarnya peran Salatiga dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk Perjanjian Kalicacing tahun 1757 yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Mataram, serta lahirnya sejumlah tokoh nasional seperti Yos Sudarso, Adi Sucipto, Brigjen Sudiarto, dan Yusup Ronodipuro,” pungkasnya.
Jurnalis: Angga Rosa
Editor: Ulfa
































