PEKALONGAN, Lingkarjateng.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan memastikan usulan pembangunan irigasi di Dusun Petungkon, Desa Tembelanggunung, Kecamatan Lebakbarang, segera ditindaklanjuti.
Petani Dusun Petungkon sebelumnya mengeluhkan keterbatasan air untuk mengairi lahan pertanian, selain itu jaringan irigasi juga belum memadai.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) DKPP Pekalongan, Sutanto, mengatakan usulan tersebut telah diajukan kepada Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. Bahkan, calon petani dan calon lokasi (CPCL) untuk program tersebut telah muncul dan dilakukan survei oleh konsultan dari pihak provinsi.
“Alhamdulillah, ini berkat kerja sama rekan-rekan di lapangan. Insyaallah akan kami segera tanggapi dan kami dorong untuk segera diselesaikan,” kata Sutanto, Selasa, 11 Agustus 2026.
Pada Senin, 10 Agustus 2026 pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Jateng untuk memastikan waktu pelaksanaan pembangunan irigasi tersebut.
“Kebetulan untuk wilayah yang tadi disampaikan, memang kami sudah usulkan ke Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah. CPCL juga sudah muncul dan sudah disurvei oleh konsultan dari provinsi,” ujarnya.
Sutanto menyebut pihak provinsi menyampaikan bahwa pembangunan tersebut ditargetkan dapat direalisasikan pada Agustus 2026.
“Pihak provinsi menyampaikan bahwasanya nanti Agustus ini bisa segera direalisasikan. Paling lambat awal September itu bisa direalisasikan,” jelasnya.
DKPP Pekalongan akan terus melakukan pendampingan dan mendorong agar pembangunan segera dilaksanakan. Hal itu dinilai penting untuk mencegah tanaman petani mengalami gagal panen atau puso akibat kekurangan air.
“Kami dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan ini selalu mendampingi, mendorong untuk segera dilaksanakan. Karena tadi jangan sampai terjadi puso di wilayah tersebut,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Lebakbarang, Bayu, mengatakan pemerintah sebelumnya juga telah menjalankan sejumlah program irigasi perpipaan di wilayah tersebut.
Pada 2025, terdapat program Optimalisasi Lahan (Oplah) seluas sekitar 90 hektare yang dilengkapi irigasi perpipaan. Menurut Bayu, keberadaan jaringan tersebut membantu menjaga ketersediaan air hingga musim kemarau.
“Alhamdulillah, sumber air masih cukup sampai musim kemarau ini di lahan Opla,” ungkapnya.
Pada 2026, program irigasi perpipaan kembali dilaksanakan di sejumlah desa. Tujuh desa mendapatkan program melalui APBN, sedangkan tiga desa diantaranya memperoleh program melalui APBD I
Bayu mencontohkan, jaringan irigasi di Desa Depok yang mengalir hingga desa Timbangsari telah memberikan manfaat bagi petani. Di Timbangsari, lahan yang sebelumnya tidak dapat ditanami saat kemarau panjang kini masih dapat digunakan untuk menanam padi.
“Yang tadinya musim kemarau panjang tidak bisa ditanami, biasanya tanaman jagung, sekarang masih bisa padi,” katanya.
Untuk Desa Tembelanggunung dan Mendolo, Bayu menyebut distribusi air dari sumber juga telah dibagi antara kebutuhan irigasi dan kebutuhan air bersih masyarakat.
Meski demikian, ia berharap program irigasi perpipaan dapat kembali dilanjutkan pada tahun berikutnya karena masih terdapat sejumlah desa yang membutuhkan jaringan tersebut.
Bayu juga mengimbau petani untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Pasalnya, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September 2026.
“Untuk masyarakat, kalau memang yang sudah tanam, mohon untuk air dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena musim kemaraunya diperkirakan sampai akhir September,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pembagian penggunaan air secara bergiliran agar kebutuhan seluruh petani tetap dapat terpenuhi.
“Padi itu bukan tanaman air, tapi tanaman yang membutuhkan air. Jadi harus bergiliran airnya,” pungkas Bayu.
Jurnalis: Fahri Akbar
Editor: Ulfa
































